Nadiem Ungkap Tantangan Belajar dari Rumah Akibat Pandemi COVID-19

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Selasa, 09 Jun 2020 20:27 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim mengaku jengkel karena dituding konflik kepentingan (conflict of interest) terkait bayar SPP menggunakan GoPay.
Nadiem Makarim (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta -

Pandemi virus Corona masih mewabah di Indonesia dan sejumlah negara. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan banyak negara di dunia saat ini mengalami tantangan menerapkan kegiatan belajar dari rumah.

"Tantangan ini bukan dihadapi hanya di Indonesia tantangan ini di semua negara di dunia yang mengalami belajar dari rumah," kata Nadiem dalam telekonferensi di diskusi 'Distance Learning Affecting Students in New Normal', Selasa (9/6/2020).

Lebih lanjut Nadiem mengungkapkan persiapan dalam melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau remote learning biasanya akan membutuhkan waktu sekitar 5 tahun. Namun, sambung Nadiem, pandemi COVID-19 mengharuskan masyarakat untuk beradaptasi dalam melakukan PJJ.

"Untuk menemukan formulanya belajar dari rumah atau remote learning itu proses yang memakan waktu 5 tahun transisinya, tapi tiba-tiba karena kondisi COVID ini tiba-tiba semua orang harus belajar melakukannya dalam waktu beberapa bulan," ujar Nadiem .

Nadiem juga mengatakan ada hal positif yang dapat diambil dari masa pandemi COVID-19 ini. Menurut Nadiem, saat ini adalah masa yang membuat guru hingga orang tua murid membuat metode pembelajaran baru bagi anak.

"Masa transisi adalah masa yang sulit tapi bukan berarti itu bukan kesempatan. Belum pernah kita melihat jumlah guru, jumlah orang tua, jumlah murid mencoba-coba metode baru dalam pembelajaran di seluruh sejarah Indonesia belum pernah ini terjadi," ucap Nadiem.

Lebih lanjut Nadiem mengatakan ada pertukaran atau trade-off yang terjadi dalam dunia pendidikan. Menurutnya, ada pengorbanan dari kualitas pendidikan selama masa pandemi. Namun, sisi baiknya, ada adaptasi terhadap teknologi.

"Jadi itu walaupun kualitas pembelajaran mungkin terkorban, tetapi untuk investasi teknologi adoption ke depan kita sedang terjadi dalam proses itu. Jadinya ada sedikit trade-off di mana ada pengorbanan kualitas pembelajaran tapi kita ada benefitnya dalam adaptasi atau adopsi pengenalan dalam teknologi di masa depan," tutur Nadiem.

(gbr/gbr)