Khawatir Positif COVID-19, Warga di Makassar Pasang Spanduk Tolak Rapid Test

Hermawan Mappiwali - detikNews
Senin, 08 Jun 2020 13:11 WIB
Sejumlah warga di Makassar menolak rapid test virus Corona (COVID-19) (Hermawan-detikcom).
Sejumlah warga di Makassar menolak rapid test virus Corona (COVID-19). (Hermawan/detikcom)
Makassar -

Sejumlah warga di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), menolak rapid test atau tes cepat virus Corona (COVID-19) yang akan dilakukan pemerintah daerah. Warga khawatir dinyatakan positif COVID-19.

Seperti penelusuran detikcom, di Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Senin (8/6/2020). Tampak warga memasang spanduk bertuliskan penolakan rapid test di sejumlah lorong atau gang.

"Kami pasang di setiap gang masuk lorong, ada 4 spanduk kami pasang, intinya ada di setiap gang," ujar salah seorang warga Kelurahan Ballaparang, Makassar, Arul, saat ditemui di lokasi rumahnya.

Sejumlah warga di Makassar menolak rapid test virus Corona (COVID-19) (Hermawan-detikcom).Sejumlah warga di Makassar menolak rapid test virus Corona (COVID-19). (Hermawan/detikcom)

"Kita khawatir rapid test karena biasa tidak COVID ji tapi divonis COVID. Baru di sini banyak lansia, jadi kami tolak," katanya. Arul dan warga lainnya memasang spanduk di sejumlah muara lorong permukiman warga di RW 9 RT 3 sekitar pukul 12.00 Wita. Mereka memasang spanduk setelah menerima kabar akan dilakukan rapid test di area permukiman mereka.

Penolakan rapid test juga datang dari warga Kelurahan Bara-baraya Induk, Kecamatan Makassar. Sejumlah warga mengaku tidak percaya pada hasil rapid test.

"Sudah banyak contoh kasus, kemarin di sini ada warga dibawa ke (pemakaman) Macanda karena dibilang kena COVID, belakangan keluar hasil tesnya, negatif ji," ujar warga Bara-baraya, Ivan, saat ditemui terpisah.

Sejumlah warga di Makassar menolak rapid test virus Corona (COVID-19) (Hermawan-detikcom).Sejumlah warga di Makassar menolak rapid test virus Corona (COVID-19). (Hermawan/detikcom)

Ivan menjelaskan warga di Bara-baraya mengaku rapid test tidak perlu dilakukan lantaran tak ada kasus Corona di wilayah permukiman mereka.

"Kita warga di sini sebenarnya heran sama pemerintah, kenapa baru sekarang mau rapid test. Padahal kalau serius, kenapa tidak dilakukan pada saat Corona ini lagi booming-booming-nya, itu sekitar bulan Maret sampai April," katanya.

Menurut Ivan, mereka tak bermaksud membangkang pemerintah. Warga disebut merasa rapid test tidak perlu dilakukan lagi.

"Itu kan ada kasus, rapid test pertama dia negatif, kedua juga negatif, nanti rapid test ketiga baru positif, jadi buat apa kalau begitu. Warga di sini benar-benar khawatir kalau begitu," katanya.

Pantauan detikcom di lorong 41 Kelurahan Bara-baraya, warga tampak siaga. Pada pukul 13.37 Wita, mereka tiba-tiba mengunci pagar bambu yang dipasang di setiap lorong masuk gang lantaran salah seorang warga menyebut petugas rapid test datang.

Tak hanya mengunci, para warga juga berkumpul lantaran hendak melakukan penolakan. Namun belakangan warga kembali membuka gembok pagar bambu lantaran petugas rapid test tak kunjung datang.

"Kita lihat mi di sini toh, warga betul-betul siaga, tolak rapid test," kata salah seorang warga.

Tonton video 'Jenazah PDP Corona di Makassar Dibawa Kabur Keluarga':

(nvl/nvl)