Cerita Ibu Bocah Babil Derita Asam Urat hingga Tangan dan Kakinya Bengkok

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Jumat, 05 Jun 2020 13:21 WIB
Babil (12), bocah 6 SD yang harus seorang diri berjuang rawat ortu sakit (M Taufiqqurrahman/detikcom)
Babil (12), bocah kelas VI SD yang harus seorang diri berjuang merawat ortu yang sakit. (M Taufiqqurrahman/detikcom)
Makassar -

Babil, bocah 12 tahun, harus merawat sendiri kedua orang tuanya yang sakit. Ayahnya stroke, sementara ibunda Babil, Karanuang Daeng Sunggu (40), telah dirawat sejak terkena penyakit asam urat yang menyebabkan tangan dan kakinya bengkok.

"Saya ini sudah kena penyakit asam urat sejak 8 tahun lalu. Sejak saat itu Babil dan ayahnya rawat saya," kata Karanuang saat berbincang dengan detikcom, Jumat (5/6/2020).

Namun, semenjak ayah Babil, Kamaluddin, mengalami stroke beberapa waktu lalu, otomatis Babil-lah yang menjadi tulang punggung keluarga untuk perawatan.

"Saya ini alami penyakit asam surat, karena penyakit ini, tangan dan kakiku bengkok jadi susah saya jalan," ujarnya.

Dia menceritakan setelah dia dan suaminya tidak lagi dapat berjalan, Babil lah yang melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan rumah, memasak, hingga memandikan kedua orang tuanya. Menurutnya, Babil belajar memasak setelah melihat bapaknya memasak sebelum sakit.

"Semenjak kami sakit ini, dia pulang sekolah sudah tidak pernah main karena rawat kami. Dia memasak, kasih mandi, sampai ceboki bapaknya itu," ucapnya lirih.

Perlu diketahui, Babil telah merawat orang tuanya sejak ibunya lumpuh saat dirinya masih sangat kecil.

"Ibuku sakit sejak saya kelas I SD, saya yang rawat dibantu bapak sebelum sakit juga, karena jalannya sedikit-sedikit," kata Babil saat berbincang dengan detikcom, Jumat (5/6).

Sejak saat itu, Babil memulai merawat ibunya sementara ayahnya bekerja di luar sebagai tukang service handphone. Pekerjaan ayahnya, Kamaluddin (39) harus terhenti karena terkena stroke sejak akhir tahun lalu.

"Setelah bapakku sakit juga, saya yang urus semuanya," kata dia terbata lewat sambungan telepon.

Babil mengatakan dia mendapatkan bahan makanan untuk masakan itu dari bantuan para tetangganya yang berada di Topejawa, Takalar. "Ada tetanggaku kasih saya bahan, baru saya masakmi," ungkapnya

(fiq/tor)