Pengamat Internasional: Kasus George Floyd Jadi Pemicu Fenomena Gunung Es

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 02 Jun 2020 07:29 WIB
Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana dalam diskusi Warga Tanpa Warga Negara di kantor Para Syndicate, Jakarta, Jumat (19/8/2016)
Foto: Hikmahanto Juwana (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Momen protes terhadap kematian George Floyd terus berlangsung. Pengamat internasional menyebut kejadian terhadap George Floyd menjadi pemicu fenomena gunung es.

"Ternyata kejadian terhadap George Floyd, menjadi pemicu dari fenomena gunung es. Akhirnya di banyak negara bagian terjadilah demo besar-besaran, kemudian ditunggangi mereka-mereka yang ingin merusak dan menjarah," ujar guru besar UI, Prof Hikmahanto Juwana saat dihubungi, Senin (1/6/2020).



Saat ini, kelompok Antifa disebut sebagai pelaku kerusuhan dalam demo tersebut. Hikmahanto menilai, kelompok Antifa yang dikenal sebagai kelompok ekstrim kiri ini bisa saja mengambil kesempatan.

"Nah menurut saya bisa saja kelompok Antifa mengambil kesempatan. Mereka ini memang dikenal sebagai kelompok ekstrim kiri, mereka memperjuangkan ide mereka dengan menggunakan kekerasan. Mereka ini kelompok yang antara lain anti fasisme, anti supremasi kulit putih dan rasisme," kata Hikmahanto.

Namun, Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) ini juga menilai kelompok Antifa saat ini bisa saja dimanfaatkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Menurutnya, Trump bisa memanfaatkan Antifa untuk menenangkan masyarakat AS.

"Tapi bisa juga Trump memanfaatkan Antifa ini untuk menenangkan publik AS, karena dia butuh musuh bersama (common enemy) untuk mengendalikan situasi. Trump atas dasar ini tidak hanya bisa menurunkan Garda Nasional, tetapi juga milter AS. Tapi sepertinya militer AS enggan untuk terlibat," tuturnya.



Hikmahanto kasus ini merupakan isu yang berkaitan dengan police brutality, yang akan semakin terlihat bila polisi kulit putih melakukan penangkapan terhadap pelaku kulit hitam. Dimana hilangnya nyawa George Floyd menimbulkan banyak kemarahan yang kemudian juga ditunjukan kepada Trump.

"Ini sebenarnya isu terkait police brutality atau brutalitas polisi, dalam menangani mereka-mereka yang diduga melakukan kejahatan. Nah police brutality ini akan terlihat, bila polisi kulit putih melakukan penangkapan terhadap pelaku kulit hitam. Polisi akan menggunakan kekerasan yang berlebihan atau excessive force, dalam kaitan dengan George Floyd berakibat pada hilangnya nyawa," tuturnya.

"Nah ini memicu kemarahan dari publik AS, tidak saja yang berkulit hitam tetapi juga berbagai warna kulit. Lalu kemudian amarah ini tertuju pada Trump yang dianggap dalam tindakannya selalu mengunggulkan kulit putih, bahkan dalam beberapa kesempatan melontarkan pernyataan-pernyataan yang mengarah ke rasis," sambungnya.

Diketahui, Donald Trump menuding kelompok Antifa sebagai pelaku kerusuhan dalam momen protes terhadap kematian George Floyd. Amerika Serikat akan memasukkan kelompok anti-fasis Antifa ke dalam daftar organisasi teroris, kata Presiden Donald Trump.

"Kekerasan dan vandalisme dipimpin oleh Antifa dan kelompok-kelompok sayap kiri radikal," kata Trump menyusul malam penjarahan dan pembakaran yang meluas di Minneapolis, dilansir AFP, Minggu (31/5).

Simak video 'Detik-detik Lampu Gedung Putih Dimatikan Saat Digeruduk Pendemo':

(dwia/rfs)