ODP di Semarang Melonjak, Walkot Minta Tidak Sepelekan SOP Kesehatan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 22:53 WIB
Pemkot Semarang
Foto: Pemkot Semarang
Jakarta -

Pemerintah Kota Semarang mengungkapkan angka orang dalam pantauan (ODP) COVID-19 di Kota Semarang meningkat tajam dalam lima hari terakhir. Tercatat pada tanggal 25 Mei 2020 ODP di Kota Semarang sebanyak 148 orang, hingga tanggal 29 Mei 2020 jumlah ODP bertambah mencapai 200 orang.

"Naiknya jumlah ODP tersebut juga dipengaruhi oleh jumlah orang positif COVID-19 yang juga melonjak beberapa hari ke belakang ini. Untuk itu, kami berupaya untuk memaksimalkan pelacakan orang yang kontak fisik dengan penderita untuk dapat menekan penyebaran COVID-19," ujar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2020).

Contoh sebelumnya, kata Hendi, klaster Pasar Kobong Semarang temuan delapan kasus reaktif dari rapid test yang dilakukan. Kemudian Pemerintah Kota Semarang berupaya melakukan pelacakan hasilnya didapati bahwa orang di sekitarnya, yakni keluarga dan tetangganya terkena COVID-19.

"Jadi kita tracking itu, siapa saja pedagang yang waktu itu positif, mereka ketemu dengan siapa saja? Entah itu dengan keluarganya, yang lebih ironis ada keluarga di Pedurungan yang bapaknya pedagang di Pasar Kobong, istrinya positif, anaknya positif, beberapa tetangganya positif," ungkapnya.

"Iya bisa lewat droplet seseorang yang menderita COVID-19 atau juga lewat tangan yang tidak terjaga kebersihan, lalu menggunakan uang untuk transaksi dari situ juga bisa menyebar," imbuhnya.

Untuk itu, Hendi pun mengharapkan agar masyarakat tidak menyepelekan SOP Kesehatan, karena bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga membahayakan sekelilingnya.

"COVID-19 ini bukan soal urusan diri sendiri, tetapi juga menjaga sekelilingnya, ini yang harus benar - benar dipahami agar bisa lebih peduli. Jadi penting juga untuk saling mengingatkan, kalau ada yang tidak pakai masker di sekelilingnya, tolong diingatkan, untuk keselamatan diri yang mengingatkannya juga," pintanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr. Abdul Hakam mengakui jika Ro Kota Semarang saat ini berlipat, salah satunya dari klastes Pasar Kobong.

"Dari yang kita temukan awal, dalam proses tracking yang dilakukan, 1 penderita di sana kontak erat dengan lainnya ada yang hingga 4 sampai 6 orang, bahkan 11 orang. Ini tentu mengkhawatirkan, maka pemutusan mata rantai diharapkan bisa didukung masyarakat dengan tertib menjalankan SOP Kesehatan," ucapnya.

(akn/ega)