Cerita Eni, Pedagang Kecil Pinggir Rel Dapat Bantuan Modal dari ACT

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 28 Mei 2020 23:39 WIB
ACT
Foto: Aksi Cepat Tanggap
Jakarta -

Jauh masuk ke pemukiman padat penduduk di tengah ibu kota, masyarakat prasejahtera yang mencari nafkah dengan cara berdagang menjerit karena kegundahan mereka. Dalam kondisi pandemi saat ini, mereka harus hidup dalam himpitan ekonomi tanpa penghasilan yang pasti.

Seperti Eni Yuniarti (50) seorang ibu paruh baya yang berjualan nasi goreng di sisi rel KRL dekat Stasiun Kota yang sudah sebulan tidak berjualan, karena penjualan yang semakin sepi sehingga tidak ada pemasukan untuk kehidupan sehari-hari.

Selain itu, warga Kampung Muka, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara tersebut merupakan tulang punggung keluarganya, mengingat sang suami harus pulang kampung untuk menjalani pengobatan dan cuci darah setiap pekan.

"Kadang, saya sudah masak nasi banyak, cuma tidak ada pembeli," ujar Eni dalam keterangan tertulis, Rabu (28/5/2020).

Warung Eni buka sejak pukul lima sore hingga tengah malam. Sebelum pandemi COVID-19 dan pembatasan sosial berskala besar, Eni biasa memperoleh omzet Rp 400.000 sehari.

"Sekarang alhamdulillah masih dapat 30 ribu, memang tidak balik modal. Itu pun buka sejak pukul lima sampai dua malam. Maka dari itu, jualan berhenti dulu," lanjut Erni.

Sementara keadaan semakin tidak pasti, Eni harus memenuhi hidup keluarga dan membayar sewa sebuah kontrakan petak yang ditinggali bersama ibunya. Biaya hidup di Jakarta yang tinggi tidak mampu dipenuhi. Ia pun berpasrah mengandalkan bantuan dari tetangga sekitar.

"Kalau ada modal lagi, saya tetap mau berjualan untuk menyambung hidup," ungkap Eni.

Menanggapi hal tersebut, Pada Sabtu lalu, tim program Aksi Cepat Tanggap (ACT) hadir memberikan modal usaha untuk Eni melalui Program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (SUMI). Vice President ACT Insan Nurrohman menjelaskan, Program Sahabat Usaha Mikro Indonesia adalah program pemberian sedekah modal kerja dan pendampingan untuk pelaku usaha ultra mikro yang terdampak pandemi COVID-19. Melalui pendampingan, penerima manfaat yang dalam satu wilayah kecamatan akan dibentuk kelompok sesuai dengan kluster usaha.

"Masih banyak usaha mikro yang belum memiliki fasilitas informasi terkait permodalan. Sebagian mereka juga belum mampu memisahkan keuangan usaha dengan kebutuhan harian rumah tangga. Mereka juga terjebak rentenir yang justru malah menyengsarakan kehidupan," terang Insan.

Sementara itu, Wahyu Nur Alim yang merupakan salah satu Tim Program ACT berharap, modal tersebut bisa menjadi penyemangat Eni untuk kembali membuka usaha.

"Lebih lanjut, melalui program SUMI, penerima manfaat juga akan mendapatkan pendampingan pengembangan kapasitas usaha dari aspek spiritual dan manajemen wirausaha," jelas Wahyu.

Sahabat Usaha Mikro Indonesia pun punya sejumlah pencapaian antara lain, terbukanya jaringan kerjasama dengan komunitas UMKM di Indonesia, digitalisasi produk, dan terbentuknya kelompok Sahabat UMI tingkat nasional.

(akn/ega)