Pemondokan Haji di Madinah (1)
Antara Keren dan Memprihatinkan
Rabu, 21 Des 2005 09:27 WIB
Madinah - Pemondokan jamaah haji di Madinah memang beragam. Di ring I, jamaah haji merasa puas. Tapi, di ring II atau ring III, jamaah mengeluh. Selain terlalu banyaknya orang dalam satu kamar, keterbatasan kamar mandi, toilet, dan air menjadi masalah. Pemondokan jamaah haji di ring I berada di kawasan Markaziah, berjarak 0-300 meter dari Masjid Nabawi. Sedangkan pemondokan ring II berjarak sekitar 300-700 meter, dan ring III 700-1.200 meter dari Masjid Nabawi. Penentuan jamaah haji yang mendapatkan pemondokan di ring I, II, dan III hanya ditentukan oleh jadwal kedatangan jamaah. Jamaah haji yang datang pada hari 1 sampai ke-6 akan mendapat berkah, karena mendapat pemondokan di ring I. Jamaah haji yang datang setelah hari keenam akan mendapatkan pemondokan di ring II atau III. Pemondokan di ring I terdiri dari hotel-hotel berbintang. Sementara di ring II dan III sebagian besar pemondokan biasa. Banyak pihak mempertanyakan asas keadilan atas penentuan pemondokan ini, sebab masing-masing jamaah haji dipungut 500 Riyal untuk pemondokan selama 8 hari. Komponen 500 Riyal ini masuk dalam komponen biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang telah disepakati pemerintah dan DPR. Dalam kunjungannya beberapa waktu lalu, Tim Pengawas Haji dari DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif yang datang pada 10-11 Desember 2005, atau pada hari ketiga kedatangan jamaah haji di Madinah, memuji pemondokan di Madinah. Saat melakukan sidak di sebuah hotel Al Haritsiyah di kawasan ring I, Zaenal dan teman-teman tidak menemukan keluhan jamaah haji yang berarti. Paling-paling para anggota dewan itu hanya mendapatkan keluhan tentang rebutan naik lift, karena jumlah lift di hotel itu terbatas. Namun, para jamaah haji yang menginap di hotel-hotel mewah itu tidak komplain soal pemondokannya. Tentang komplain rebutan naik lift ini, Zaenal juga hanya meminta mereka untuk tetap bersabar dan mengaktifkan budaya antre. Secara umum, Zaenal memuji pemondokan ini. "Saya rasa pemondokan di Madinah tidak seburuk di Makkah. Saya yakin, pemondokan di Madinah tidak terlalu bermasalah," kata Zaenal seperti dilaporkan reporter detikcom di Madinah, Arifin Asydhad. Hal yang sama juga disampaikan anggota DPR dari Komisi VIII Said Abdullah yang mengunjungi Madinah pada Jumat (16/12/2005) lalu. Seusai salat Jumat, Said melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Hotel Taiba Residential Suites, hotel berbintang lima yang tepat berada di bibir pagar Masjid Nabawi. Said menemui jamaah dari kloter 7 JKS asal Depok. Saat berbincang-bincang dengan para jamaah haji yang menginap di hotel itu, Said tidak menemukan keluhan yang berarti. Warga Depok itu malah senang, meski satu kamar dihuni 7 orang. "Pemondokan di sini enak, Pak. Kamar mandinya juga bagus," kata Zulkarnaen, salah seorang jamaah. Said juga memuji pelayanan di hotel yang berada di bawah Majmuah Al Mukhtarah. Sebab, hotel ini juga menyediakan pelayan (khadamah) untuk membantu para jamaah haji mengangkut koper dan barang menuju kamar masing-masing. "Kami menyediakan pelayan untuk para jamaah haji Indonesia," kata Sami Marzooq Al Matrafi,pimpinan Al Mukhtar Group. Said memuji pelayanan Al Mukhtarah, karena penyediaan pelayan ini tidak masuk dalam komponen pemondokan jamaah haji. "Kalau semua hotel seperti ini, kan bagus," kata anggota DPR dari FPDIP ini. Demikianlah situasi hotel berbintang yang ditempati jamaah haji Indonesia. Hotel-hotel berbintang lainnya, seperti Al Andalus, Sanabel, Dallah, dan lain-lain juga berkondisi yang sama. Tapi, situasi yang ironis terjadi pada pemondokan jamaah haji di ring III. Saat melakukan kunjungan ke pemondokan di Khazrul Haramain di kawasan Masane, Selasa (20/12/2005), anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Nursanita Nasution menemukan sesuatu yang memprihatinkan. Nursanita mengelus dada saat melihat pemondokan yang dihuni Kloter 26 JKS asal Bandung dan Karawang. Bayangkan saja, kamar-kamar di pemondokan ini yang berukuran 10x5 ini dihuni 17 orang. Ranjangnya pun diletakkan hampir berdempetan, tampak terlalu sempit. Sementara kamar mandi dan WC hanya ada satu dan kamar mandi disatukan dengan WC. Jadi, 17 penghuni kamar berebutan menggunakan 1 kamar mandi/WC. Jamaah haji penghuni pemondokan ini juga mengeluh karena aliran air tersendat. Lift juga tidak bisa dioperasikan. "Ini menyedihkan," kata Nursanita. Foto:Inilah Hotel Sanabel, hotel berbintang yang ditempati jamaah haji asal Indonesia
(nrl/)











































