Udara Terasa Panas dan Gerah Akhir-akhir Ini, Begini Penjelasan BMKG

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Selasa, 26 Mei 2020 14:48 WIB
Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Jakarta -

Akhir-akhir ini banyak masyarakat yang mengeluhkan cuaca panas yang menimbulkan gerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) punya penjelasannya.

"Suasana gerah secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai dengan kelembapan udara yang tinggi," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal melalui keterangannya, Selasa (26/5/2020).

Kelembapan udara yang tinggi terkait dengan jumlah uap air yang terkandung pada udara. Makin banyak uap air yang terkandung dalam udara akan makin lembap udara tersebut, dan apabila suhu meningkat akibat pemanasan matahari langsung karena berkurangnya tutupan awan, suasana akan lebih terasa gerah.

Herizal menjelaskan, laporan meteorologis mencatat suhu udara di beberapa daerah, termasuk Jabodetabek, pada siang hari berkisar 34 hingga 36 derajat Celsius. Dia mengatakan umumnya wilayah perkotaan, terutama di kota-kota besar, memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan dengan wilayah non-perkotaan.

"Laporan pencatatan meteorologis suhu maksimum udara (umumnya terjadi pada siang atau tengah hari) di Indonesia dalam 5 hari terakhir ini berada dalam kisaran 34-36°C. Beberapa kali suhu udara >36°C tercatat terjadi di Sentani, Papua. Di Jabodetabek, pantauan suhu maksimum tertinggi terjadi di Soekarno-Hatta 35°C, Kemayoran 35°C, Tanjung Priok 34,8°C, dan Ciputat 34,7°C. Demikian juga wilayah lain di Jawa, siang hari di Tanjung Perak suhu udara terukur 35°C," jelasnya.

"Wilayah perkotaan terutama di kota besar umumnya memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan bukan wilayah perkotaan. Sementara itu catatan kelembapan udara menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kisaran >80-100%, yang termasuk berkelembapan tinggi," sambung Herizal.

Selain itu, kata Herizal, udara gerah merupakan fenomena biasa yang terjadi pada saat memasuki musim kemarau. Secara statistik berdasarkan historis, wilayah Jabodetabek pada April hingga Mei memiliki suhu udara yang cukup tinggi selain bulan Oktober dan November.

"Fenomena udara gerah sebenarnya adalah fenomena biasa pada saat memasuki musim kemarau. Untuk Jabodetabek, periode April-Mei adalah bulan-bulan di mana suhu udara secara statistik berdasarkan data historis memang cukup tinggi, selain periode Oktober-November. Pada musim kemarau, suhu udara maksimum di Jakarta umumnya berada pada rentang 32-36°C," tuturnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2