IDI Imbau Dokter Tak Sembarangan Beri 'Surat Bebas COVID-19' ke Pemudik

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 26 Mei 2020 13:35 WIB
Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan berjalan menaiki bus yang akan membawa mereka ke Terminal Pulogebang, Jakarta, di Pintu Tol Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020). Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan oleh Polda Metro Jaya tersebut dibawa ke terminal Pulogebang untuk kemudian diarahkan kembali menuju Jakarta. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.
Ilustrasi Pemudik (Nova Wahyudi/Antara Foto)
Jakarta -

Warga yang akan kembali ke DKI Jakarta diwajibkan memiliki surat izin keluar masuk (SIKM) dan hasil rapid test atau tes swab virus Corona (COVID-19). IDI pun mengimbau dokter tidak sembarangan memberikan surat bebas COVID-19 ke pemudik.

"Kalau SIKM kan nggak perlu PCR, persyaratannya hanya surat sehat. Jadi surat bebas COVID-19 itu sebenarnya nggak ada. Misalnya dokter nggak mungkin, nggak akan ngasih ya. IDI mengimbau dokter tidak memberi surat bebas COVID-19," kata Waketum PB IDI Slamet Budiarto saat dihubungi, Selasa (26/5/2020).

Menurut Slamet, seharusnya pemerintah mensyaratkan agar warga menjalani test virus Corona begitu sampai di DKI Jakarta. Sebab, surat pernyataan sehat tak menjamin warga tersebut tidak tertular COVID-19.

"Misalnya periksa hari ini PCR kan nunggu 3 hari paling cepat kan, hari ini periksa hari besok ketularan. Begitu hasil PCR-nya keluar kan sudah positif sebenarnya, padahal PCR-nya negatif," kata dia.

"Tes PCR itu paling cepat kalau di Jawa Tengah 3 hari mungkin bisa lebih lah 3-4 hari. Hari pertama tes hasil belum keluar, hari kedua dia ketularan. Padahal setelah keluar hasil tesnya negatif jadi percuma daripada membuang uang," sambung Slamet.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2