Epidemiolog Sarankan RI Tak Longgarkan PSBB Sebelum Puncak Pandemi

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2020 08:24 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona (Foto: Edi Wahyono)

Sementara itu, pakar epidemiologi dari UGM Riris Andono Ahmad menyoroti pentingnya implementasi kebijakan yang konsisten dari pemerintah untuk bersiap menghadapi puncak wabah virus Corona ini. Menurutnya, perlu ada tindakan tegas bagi masyarakat yang tidak mematuhi anjuran pemerintah.

"Seharusnya melakukan implementasi secara konsisten. Ya itu kebijakan social distancing maupun PSBB diimplentasikan dengan konsisten. Setiap pelanggaran ditindak dengan tegas, kepastian hukum ditegakkan," kata Riris.

Seperti diketahui, penambahan kasus positif virus Corona di Indonesia hampir mencapai 1.000 kasus pada Kamis (21/5) kemarin namun turun kembali pada Jumat (22/5). Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menilai hal itu bukan pertanda Indonesia sedang menuju puncak kurva Corona.

"Kalau menurut saya tidak begitu kondisinya," kata Wiku kepada detikcom, Jumat (22/2).

Untuk mengetahui puncak Corona dalam skala nasional, maka perlu pula menganalisis puncak Corona di berbagai daerah. Dia menjelaskan, saat ini berbagai daerah sedang berbenah diri untuk melaksanakan penanganan kasus Corona. Maka terlalu dini bila puncak kasus Corona disimpulkan untuk sekarang, karena daerah-daerah masih berbenah.

"Pada saat ini kurang tepat melihat (puncak) angka nasional karena tiap daerah (rumah sakit, laboratorium, Puskesmas, dll) sedang membenahi diri. Pada saat selesai berbenah nanti, barulah akan terlihat data riilnya. Dari situ, baru kita ikuti bagaimana trennya dan kapan puncaknya. Setelah semua daerah bagus, baru kita bisa lihat tren nasional," tutur Wiku.

Halaman

(azr/isa)