Epidemiolog Sarankan RI Tak Longgarkan PSBB Sebelum Puncak Pandemi

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2020 08:24 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Pakar epidemiologi menyarankan agar pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak dilakukan sebelum Indonesia mencapai puncak pandemi virus Corona. Pelonggaran PSBB dinilai akan membuat jumlah kasus semakin tinggi dan meningkatkan risiko kematian.

"(Pemerintah) siap-siap aja, siap-siap nanti banyak yang masuk rumah sakit. Banyak kasus kan, kasus masih banyak yang terus meningkat kan. Padahal kita udah punya orang-orang, Menko Perekonomian udah punya agenda sendiri tanggal sekian mau bikin ini, tanggal sekian mau buka ini, gitu kan. Bisa saja itu nanti antara harapan dan kenyataan berbeda," kata pakar epidemiologi UI Pandu Riono saat dihubungi, Jumat (22/5/2020).

"Kalau menurut saya sih (pelonggaran PSBB) indikatornya harus indikator kesehatan, kasusnya menurun dulu baru boleh dibuka. Ini kan belum ada tanda-tanda penurunan," imbuhnya.

Dihubungi terpisah, epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila Yamani mengatakan kebijakan PSBB yang tidak diindahkan oleh masyarakat berpotensi semakin menambah kasus baru virus Corona. Padahal, puncak pandemi bisa dicapai jika kasus COVID-19 mulai melandai.

"Jika kebijakan PSBB tidak diindahkan oleh masyarakat Indonesia sebagai upaya pembatasan pergerakan manusia untuk memutus penularan COVID-19, maka akan berpotensi kasus terus naik dan puncak pandemi menjadi tinggi, kasus tinggi. Ini berarti akan semakin banyak orang yang terinfeksi akan membutuhkan layanan kesehatan. Padahal fasilitas kesehatan terbatas dan tenaga medis pun juga terbatas. Ini bisa memperburuk kondisi dan kasus kematian meningkat," ujar Laura.

Menurut Laura, masyarakat seharusnya memahami penerapan PSBB sehingga terjadi penurunan kasus secara konstan. Jika tidak, Laura menyebut ada potensi lonjakan kasus saat puncak pandemi nanti.

"Sehingga jika penurunan kasus ini konsisten beberapa lama baru bisa melakukan pelonggaran PSBB. Yang ada masyarakat kita banyak yang tidak patuh imbauan yang ada di dalam penerapan PSBB," jelas Laura.

"Nah bisa jadi tidak akan diketahui puncak pandeminya dan berpotensi puncak pandemi kemungkinan dicapai dengan kasus tinggi, karena banyak masyarakat yang tidak menerapkan protokoler kesehatan di saat pandemi ini," lanjut dia.

Simak video Pak Anies, PSBB di Jakarta Dilanjutkan atau Tidak?:

Selanjutnya
Halaman
1 2