Kolom Ramadhan

Membumikan Takwa Untuk Bangsa dan Negara

Sunanto - detikNews
Senin, 18 Mei 2020 11:07 WIB
Sunanto Ketum PP Muhammadiyah
Sunanto (Cak Nanto) Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta -

Bagi umat Islam, tugas melayani bangsa dan negara adalah kewajiban sosial yang utama. Oleh karena itu, menjelang akhir ibadah Ramadhan ini, mari bersama melakukan perenungan terdalam tentang makna takwa yang menjadi tujuan utama puasa. Sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian bertakwa."

Saat ini, tentu saja, takwa berkorelasi dengan jawaban atas tantangan dan masalah bangsa dan negara Indonesia. Kita sedang berjuang menghadapi pandemi corona. Bahkan semua negara di dunia mengalami guncangan yang luar biasa.

Mengapa takwa dapat menjadi kekuatan? Karena takwa itu tidak hanya berdimensi individual spiritual, tapi juga bersifat sosial. Istilah takwa, jika dirujuk ke makna awalnya, merupakan bentuk mashdar dari kata ittaqâ-yattaqi, yang bermakna menjaga diri dari segala yang membahayakan. Dalam Al-Quran, kata taqwa disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan konteks.

Hikmah Musibah

Setiap kita tentu meyakini bahwa wabah virus mematikan ini adalah ciptaan-Nya. Pasti ada hikmah dan rahasia untuk jalan meningkatkan iman dan takwa setiap hambanya. Termasuk mengapa kita ditakdirkan menjalani puasa saat pandemi global ini. Bayangkan saja, segala tradisi yang biasa dijalani saat ramadhan harus ditiadakan. Tarawih berjamaah, kajian keagamaan kini bersifat virtual, agenda buka bersama dengan teman kantor atau komunitas lainnya, lenyap begitu saja karena protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah dan para ahli kesehatan. Targetnya adalah untuk menekan penyebaran dan penularan virus mematikan yang awal muncul pada Desember 2019 lalu.

Data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 per Minggu (16/5/2020), mencatat sudah ada 17.025 kasus warga yang terjangkit Covid-19. 3.911 orang dinyatakan berhasil sembuh dan 1.089 orang telah berpulang. Belum lagi pasien dalam pengawasan (PDP) yang terdata sebanyak 35.069 orang. Tentu kita berharap semoga puluhan ribu PDP itu semuanya akan dinyatakan negatif terjangkit Covid-19.

Informasi ini sengaja diulas untuk menggambarkan betapa Covid-19 ini adalah masalah yang sangat serius. Sejak 2 Maret (pertama kasus ini muncul di Indonesia) sudah ada seribu nyawa berpulang. Semua elemen bangsa ini bersepakat bahwa Covid-19 adalah masalah bangsa dan negara. Mari segera mengatasi wabah ini, saling bergandengan tangan dan tak usah saling menyalahkan.

Ironisnya, kondisi sosial di masyarakat ternyata jauh berbeda dengan perkembangan wabah Covid-19 ini. Kompleksitas wabah ini berbanding terbalik dengan pola masyarakat menyikapi wabah ini yang terkesan acuh. Presiden, menteri, kepala daerah, pejabat BUMN dan unsur bagian pemerintah lainnya dapat dikatakan belum mampu menyampaikan pesan ke publik bahwa bangsa ini sedang menghadapi masa sulit. Sehari-hari kita justru dihadapkan dengan silang pendapat antara pejabat negara, kebijakan yang berubah-ubah dan fakta ironis lainnya.

Kondisi ini diperparah dengan bantuan sosial bagi terdampak Covid-19 yang terindikasi dimanfaatkan oleh beberapa oknum kepala daerah untuk kampanye terselubung. Tindakan petahana kepala daerah ini menjadi isu publik yang hangat dan semakin memperunyam masalah. Ditambah acak adutnya data penerima bantuan sosial antara Kemensos, Kemendes PDT dan juga pemerintah daerah. Sejujurnya kita semua semakin mengelus dada dan beranggapan bahwa wabah Covid-19 ini ternyata tidak membuat para pemegang otoritas untuk menahan hawa nafsunya, dan mau bekerja profesional untuk menolong nyawa rakyatnya.

Selain perilaku petugas negara, masyarakat kita juga semakin jauh dari empati. Pada saat yang sama ada ribuan tenaga medis yang sedang berperang menaklukkan virus tersebut. Dengan segala daya kekuatan akal, pikiran dan keahliannya berusaha total menyelamatkan setiap pasien agar dapat sembuh dari penyakit yang sudah mematikan 312 ribu nyawa manusia di muka bumi ini. Pada saat bersamaan kita justru berhadap-hadapan dengan perilaku masyarakat yang nampak acuh, abai dengan berbagai protokol kesehatan Covid-19. Segala anjuran pemerintah dan para ahli kesehatan hanya dianggap angin lalu.

Kerumunan terjadi dimana-mana. Bahkan beberapa hari lalu di Bandara Soekarno Hatta terjadi antrean padat yang sangat berisiko menjadi pusat penularan Covid-19. Di kawasan Jabodetabek misalnya jalan-jalan masih ramai seperti tidak terjadi wabah sama sekali. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan dan dapat membuat cita-cita wabah lenyap dari bumi Indonesia menjauh dari kenyataan.

Kekuatan Takwa

Menghadapi pandemi Covid-19 di saat bulan penuh berkah ramadhan ini, seharusnya menjadi momentum bagi setiap Muslim agar benar-benar menjadi insan bertakwa. Dalam Alquran, manusia bertakwa itu digambarkan sebagai mukmin yang beriman kepada hal yang ghaib, mendirikan shalat dan selalu menafkah sebagian rezekinya kepada yang berhak. Mereka juga orang yang beriman kepada kitab Alquran dan kitab yang diturunkan kepada nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad Saw. Meyakini keberadaan hari akhir sebagai waktu pembalasan seadil-adilnya.

Manusia bertakwa juga digambarkan selalu menebar kebaikan kepada sesama dalam kondisi lapang dan sempit. Ruang memaafkannya luas. Mampu menahan kebencian dan berbuat baik kepada yang telah zalim kepadanya sekalipun.

Al-Quran menyebut orang yang bertakwa untuk menggambarkan mereka yang mendapatkan petunjuk dan dicintai Allah Swt. Dimana mereka akan mendapatkan kebahagiaan abadi, kemenangan, dilindungi selalu oleh Allah Swt.

Sebagaimana dijanjikan Al-Quran, manusia bertakwa akan diberikan kelebihan dianugerahi petunjuk untuk membedakan yang benar dan salah. Mendapatkan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapi. Dimudahkan segala urusannya serta dilimpahi berkah dalam kehidupannya.

Rasulullah Saw dalam hadis qudsi menyatakan bahwa: "Puasa adalah tameng kalian meninggalkan makan dan minum serta syahwatnya karena-Ku," (HR. Bukhari). Dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw juga mengingatkan bahwa: "Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan buruk (saat berpuasa), maka tiada gunanya di hadapan Allah ketika dia meninggalkan makanan dan minumannya," (HR Bukhori).

Dari kedua hadis di atas, sangat jelas bahwa setiap orang yang berpuasa hendaknya berusaha agar pribadinya bertakwa. Maka dalam konteks kehidupan sehari-hari, hendaklah setiap Muslim yang berpuasa senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan yang mengurangi bahkan menghilangkan nilai ketakwaan dalam dirinya. Menahan hawa nafsu dengan tidak merugikan orang lain, menahan syahwat dengan menjaga para tenaga medis agar tidak merawat tambahan pasien Covid-19.

Nilai ketakwaan ini sudah seharusnya menjadi komitmen dan perilaku kolektif masyarakat Indonesia. Apalagi presiden, menteri, pejabat negara dan mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam. Mari kita refleksikan hikmah wabah ini sebagai pembuktian kita mampu menahan hawa nafsu dalam aktivitas berbangsa dan bernegara.

Sungguh Allah mencintai setiap pemimpin amanah, yang senantiasa menyejahterakan rakyat, senantiasa berkomitmen total memajukan masyarakatnya. Presiden, menteri, kepala daerah, bahkan hingga aparat terbawah, bekerja setulus hati, bersungguh-sungguh dalam menaklukkan wabah ini.

Jangan sampai wabah ini justru membuat para pejabat negara memanfatkan dengan menelorkan kebijakan yang menjauh dari nilai takwa. Menaikkan BPJS Kesehatan, berubah-ubahnya kebijakan pemangku kepentingan, dan pernyataan pejabat yang membuat gaduh. tentu menjadi indikasi tindakan tersebut sarat persenyawaan dari hawa nafsu, bukan mendekat pada nilai takwa.


Betapa indahnya apabila masyarakat Muslim Indonesia senantiasa melatih dirinya merasa diawasi Allah (muroqobah). Menjemput takwa dengan mematuhi segala protokol kesehatan, meringankan para tenaga medis dengan mengurangi aktivitas yang dapat menularkan virus. Sungguh amal kebajikan yang terasa istimewa dan berlipat ganda pahalanya saat masyarakat muslim melakukan aksi solidaritas meringankan beban masyarakat terdampak Covid-19.

Akhirnya, mari untuk senantiasa meresapi segala perintah Allah Swt. Dengan membumikan nilai takwa dalam aktivitas sosial. Nilai takwa bersenyawa dalam perilaku kolektif setiap komponen anak bangsa. Pemerintahnya amanah, masyarakatnya istiqamah menebar kebaikan untuk umat manusia.

Penulis meyakini jika kita membumikan perilaku yang sarat nilai takwa, bukan tidak mungkin segala bala', musibah yang telah meluluhlantahkan sendi-sendi kehidupan umat manusia di muka bumi ini akan segara teratasi. Semoga Allah meridhai segala amal ibadah kita, kehidupan normal yang telah dijalani pada masa sebelumnya akan menjadi nyata. Wallaahua'lam.

Sunanto

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pengirim.

(erd/erd)