Penerbangan ke Papua Ditutup, 250 Atlet PON Terhambat Pulang

Wilpret Siagian - detikNews
Jumat, 15 Mei 2020 12:53 WIB
Poster
Ilustrasi Papua (Edi Wahyono/detikcom)
Jayapura -

Sekitar 250 atlet Papua tidak bisa kembali ke Bumi Cenderawasih akibat pembatasan COVID-19. Rencananya mereka akan dipulangkan untuk pemusatan latihan di Papua.

Hal itu disampaikan Kasdam XVII/Cendrawasih Brigjen TNI Bambang Trisnohadi dalam Rapat Evaluasi Rencana Implementasi Penanganan Pandemi COVID-19 di Papua, Kamis (14/5/2020).

"Kami dari Kodam XVII/Cenderawasih siap mendukung penanganan dan pencegahan COVID-19 serta membantu dalam penanganan pasien suspect COVID-19. Banyak masyarakat yang terdampar di satu wilayah tidak bisa kembali ke Papua yang kaitannya dengan pemusatan latihan PON XX 2020," ujar Brigjen Bambang.

Dia mengatakan pembatasan ini juga berdampak kepada personel TNI yang tidak bisa kembali ke kesatuan akibat tidak adanya angkutan. Dia mengatakan atlet Papua dari Kodam Cenderawasih sempat ada yang menjalani training camp (TC) di luar Papua.

"Sebagaimana perintah Kepala Staf Angkatan Darat yang memerintahkan kepada personel TNI untuk kembali ke kesatuan masing-masing dalam antisipasi COVID-19, ada sekitar 48 atlet TNI AD yang terlibat dalam TC di luar Papua yang harusnya segera kembali ke satuan masing-masing," ujar Bambang.

Di samping itu, lanjut Bambang, program dari Puslatprov PON ke XX Papua dalam waktu dekat ini akan segera memisahkan antara atlet unggulan yang berpotensi meraih medali dan atlet-atlet yang non unggulan. Mereka akan dikembalikan ke Papua untuk melaksanakan TC secara mandiri di tempat masing-masing.

"Jadi dalam waktu dekat ke depan akan ada sekitar 250 atlet yang harus kembali ke Papua," katanya.

Untuk itu, Bambang bergarap penerbangan untuk umum dari dan ke Papua dibuka minimal seminggu sekali yang diikuti dengan protokol kesehatan COVID-19 yang ketat.

Butuh Tambahan Tempat Isolasi

Bambang juga menyampaikan beberapa permasalahan utama dari sisi kesehatan dalam penanganan COVID-19. Pertama, menurutnya Pemprov Papua harus menyiapkan tambahan tempat isolasi bagi masyarakat yang sudah positif dalam reaktif atau pun reaktif.

"Memang ada Hotel Sahid namun melihat tren peningkatan jumlah kasus, tidak mungkin dapat menampung semua. Maka ke depan perlu disiapkan fasilitas yang lebih banyak untuk menampung, apakah menggunakan Balai Diklat BPSDM di Kotaraja Dalam," ujarnya.

Namun, dia mengatakan rencana BPSDM dijadikan tempat isolasi sempat mendapat penolakan. Menurutnya, perlu ada pendekatan terhadap tokoh masyarakat dan tokoh agama agar BPSDM bisa dipakai sebagai tempat isolasi.

"Balai tersebut dapat menampung 198 orang dengan fasilitas sangat memadai karena dilengkapi televisi, AC, dan kamar mandi di setiap kamar," katanya.

Bambang juga meminta percepatan Rumah Sakit Umum di daerah Abepura yang dijadikan rumah sakit khusus bagi pasien positif COVID-19 dengan gejala ringan. RSU tersebut punya daya tampung sekitar 150 pasien.

Simak juga video PON 2020 Ditunda, Begini Respons Ketua KONI:

(jbr/jbr)