28 Warga Tambora Dites Swab Usai Tarawih Bareng OTG, Camat: Masih Bandel PSBB

Yogi Ernes - detikNews
Selasa, 12 Mei 2020 14:20 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Sebanyak 28 warga Tambora, Jakarta Barat, dites dengan metode swab setelah melaksanakan salat tarawih dengan tiga orang tanpa gejala Corona. Camat Tambora Bambang Sutama mengakui masih ada warganya yang melanggar anjuran PSBB.

"Imbauan Kapolri sudah kita berikan. Sosialisasi kita lakukan, penekanan MUI, DMI sudah kita berikan. Tapi memang masih banyak yang bandel nggak ikutin anjuran PSBB itu. Masih banyak yang pada saat itu menganggap aman-aman saja," kata Bambang ketika dihubungi, Selasa (12/5/2020).

Puluhan warga RW 07 Jembatan Besi, Tambora, ini dievakuasi pada Minggu (10/5) lalu. Hal itu dilakukan ketika para warga tersebut menjalani kontak dengan tiga orang yang telah dinyatakan positif Corona dari hasil swab pada Kamis (7/5) dan Jumat (8/5).

Dari 28 warga tersebut, 20 orang merupakan jemaah masjid, 8 sisanya merupakan tetangga dekat warga positif Corona tersebut.

"Setelah Gugus Tugas Kecamatan melakukan pendataan ditemukan 20 orang jemaah dan 8 warga tetangga kanan-kiri warga yang sebelumnya positif ini. Hari Minggu kemarin sudah dilakukan swab test dan sedang menunggu hasil," ucap Bambang.

Bambang mengatakan telah berkoordinasi dengan ketua RW/RT setempat agar warganya melaksanakan ibadah di rumah selama pandemi Corona. Namun dia menyebut pihaknya tidak bisa langsung melarang warga yang hendak beribadah.

"Jadi cara kita sebenarnya sudah lakukan imbauan terus, kita juga enggak mau tiba-tiba bubarin gitu kan namanya orang salat dibubarin nanti bisa jadi masalah malahan. Makanya, kita panggil (ketua) RW-nya, warganya buat kita berikan pengertian. Tapi, karena bandel itu ya akhirnya jadi pembelajaran sekarang," tuturnya.

Selain itu, Bambang menyebut padatnya penduduk Tambora menjadi salah satu faktor anjuran PSBB tidak berjalan maksimal.

"Jadi gini, Tambora itu kan sudah lama melaksanakan karantina wilayah. Tapi karena daerahnya sangat padat itu mereka mungkin mengalami kejenuhan. Jenuh dalam artian, kan rumahnya sepetak-sepetak. Berhadapan satu meter pintu ke pintu. Jadi itu tadi suruh ke dalam terus mereka jenuh juga," terang Bambang.

(idn/idn)