ABK WNI Diberi Makan Umpan Ikan Bau dan Daging 13 Bulan dari Freezer

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 10 Mei 2020 22:26 WIB
-
Foto ilustrasi suasana di kapal pencari ikan, tidak berhubungan dengan berita. (iStock)

Minuman yang tidak layak ini diduga menjadi penyebab kesehatan ABK WNI memburuk. Ini disampaikan oleh MBC News dalam beritanya yang kemudian viral di Indonesia, berjudul 'Bekerja 18 Jam Sehari... Dibuang ke Laut Jika Meninggal'

Makanan dan minuman yang tidak bergizi itu menjadi asupan tenaga mereka untuk bekerja 18 jam setiap hari. Jika kebetulan pada saat itu tangkapan ikan sedang berlimpah, para ABK harus kerja terusmenerus selama 48 jam tanpa istirahat. Selama 13 bulan, mereka tidak pernah sandar karena diduga menghindari pengendusan aparat lantaran mereka melakukan penangkapan ikan ilegal.

Selain itu, ABK WNI mengalami kekerasan fisik dari wakil kapten kapal serta ABK China. Kerja keras, makanan tidak layak, dikerasi secara fisik, gajinya kecil pula. Bukan hanya gaji kecil, tapi gaji juga tidak dibayarkan penuh selama tiga bulan.

"Pembayaran gaji tidak sesuai kontrak. ABK tidak mendapatkan haknya sesuai perjanjian. Ada ABK yang hanya mendapatkan USD 120 atau Rp 1,7 juta setelah bekerja selama 13 bulan. Padahal seharusnya ABK berhak mendapatkan minimum 300 USD setiap bulan," kata DNT Lawyers.

Jam kerja ditentukan oleh kapten, begitulah kontrak kerja yang membuat mereka rentan. "Kontrak kerja memuat informasi yang tidak benar, seperti misalnya dalam kontrak disebut kapal berbendera Korea Selatan, nyatanya kapal berbendera Tiongkok," kata DNT Lawyers.

Dugaan eksploitasi ini merupakan hasil pengumpulan keterangan yang dilakukan tim advokat Korea Selatan, yakni Advokat untuk Kepentingan Publik (APIL). APIL mewawancarai 14 ABK WNI yang telah mendarat di Busan Korea Selatan pada 24 April. APIL kemudian berkoorinasi dengan DNT Lawyers dan juga Yayasan Keadilan Lingkungan (EJF) yang berbasis di Oxford, Inggris.

Halaman

(dnu/eva)