Antisipasi Karhutla, BMKG Imbau Hujan Buatan Dilakukan Saat Peralihan Musim

Muhammad Ilman Nafi'an - detikNews
Jumat, 08 Mei 2020 19:55 WIB
Satgas Karhutla Riau terus berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Minggu (22/9/2019). Kebakaran lahan yang meluas dan mulai mengancam permukiman penduduk di kawasan tersebut membuat petugas terus melakukan upaya pemadaman hingga malam hari. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/foc.
Ilustrasi karhutla (Rony Muharrman/Antara Foto)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyarankan kepada pemangku kebijakan yang wilayahnya sering mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) hujan buatan di awal peralihan musim hujan ke kemarau. Hal itu karena di awal peralihan musim, debit awan masih banyak untuk disemai.

"Terkait dengan kegiatan TMC yang biasa dilakukan oleh instansi terkait, kami merekomendasikan, jika diperlukan TMC dalam kondisi untuk karhutla, waktu yang tepat untuk kegiatan tersebut maka saat periode peralihan musim hujan ke musim kemarau," ujar Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin dalam acara 'Mengantisipasi Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Musim Kemarau' yang disiarkan secara online, Jumat (8/5/2020).

Hujan buatan ini diperlukan untuk mendinginkan lahan gambut yang kerap terbakar saat musim kemarau. Jika hujan buatan dilakukan setelah memasuki musim kemarau, kata Miming, akan sulit dilakukan.

"Itu kenapa? Karena debit awan itu masih banyak hujan jadi masih banyak masih dapat disemai untuk menjadi hujan yang digunakan guna membasahi lahan gambut. Ini mungkin mulai dari instansi terkait bisa mulai merencanakan kondisi tersebut. Karena, kalau sudah menjelang puncak musim kemarau, penyemaian awan tentu sangat sulit," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Basar Manulang mengatakan pihaknya telah melakukan beberapa antisipasi agar karhutla di wilayah Indonesia tidak terjadi lagi. Salah satunya memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

"Kami juga melakukan kampanye dan publikasi kerja lapangan upaya darurat karhutla dan penyuluhan C0VID-19 di media online dan media sosial. Upaya-upaya selanjutnya adalah pembinaan Manggala Agni dan peningkatan peran masyarakat peduli api sebagai regu pemadam karhutla di mitra-mitra kerja usaha kita di izin usaha pemanfaatan hasil hutan," ucap Basar.

Antisipasi lainnya adalah memasang CCTV termal untuk mendeteksi titik panas lahan. CCTV ini juga dipantau secara online.

"Selanjutnya pemanfaatan CCTV thermal camera untuk deteksi dini secara online dan untuk ini kami juga telah melakukan pembangunan kapasitas peningkatan kapasitas bagi teman-teman yang melakukan pemantauan dalam hal ini dan kami membangun penyediaan-penyediaan produk kerja bagi daerah-daerah yang tidak terjangkau daerah operasi Manggala Agni kami," ujarnya.

Basar mengatakan upaya antisipasi KHLK lainnya adalah rencana melakukan TMC di wilayah rawan karhutla. Upaya ini bertujuan untuk membuat lahan basah sehingga titik panas dapat berkurang.

"Pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca dan berdasarkan informasi dan rekomendasi BMKG dalam waktu dekat, mungkin mulai minggu depan kita akan melakukan operasi TMC di Provinsi Riau dan berikutnya nanti di Sumsel dan Jambi dan tadi saya lihat ada BPBD dari Sumsel, Jambi mohon izin, Pak, sekalian hari Senin kita ada peluncuran acara itu. Undangan sudah kami sebar, mudah-mudahan nanti bisa ikut bergabung," tandas Basar.

(elz/elz)