Relaksasi Social Distancing Bisa Picu Corona Gelombang Kedua

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 04 Mei 2020 16:30 WIB
Petugas medis mempersiapkan ruangan yang akan digunakan untuk pasien COVID-19 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis (30/4/2020). Peralatan medis ini didatangkan oleh CT Corp, bersama Bank Mega serta dukungan Indofood dan Astra Group.
Foto ilustrasi tenaga medis yang menangani kasus Corona. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah berbicara mengenai virus Corona gelombang kedua. Pertama, saat dia berbicara soal ketidakpastian akhir pandemi. Kedua, saat Jokowi berbicara soal kepulangan tenaga kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri. Bahaya virus Corona gelombang kedua bisa dipicu oleh faktor relaksasi pembatasan sosial.

Sebagaimana dilansir CNN, diakses detikcom, Senin (4/5/2020), topik soal potensi wabah COVID-19 gelombang kedua juga menjadi pembicaraan di Amerika Serikat (AS).

Dokter ahli penyakit menular yang disegani di AS, Anthony Fauci, memprediksi wabah ini bisa kembali setelah AS mengalami penurunan kasus.

Pemicu pertama wabah Corona gelombang kedua adalah bila negara mengakhiri pembatasan sosial terlalu cepat. Bila itu terjadi, negara yang bersangkutan bakal mengalami lonjakan angka kematian. Agar itu tidak terjadi, pengetesan terhadap virus Corona, pelacakan kasus, dan isolasi bagi mereka yang tertular Corona adalah faktor penting supaya gelombang kedua tidak terjadi di AS.

Sama dengan Anthony Fauci, kepala kantor medis Dignity Health Southern California bernama Nicholas Testa berpendapat pelonggaran social distancing bisa memicu gelombang kedua.

"Pertama, yakni relaksasi dari social distancing yang kita terapkan.... Segera setelah itu terjadi, pasti kita akan melihat gelombang kedua-pertanyaannya adalah seberapa signifikan itu akan terjadi?" kata Nicholas Testa, dilansir ABC7.

Simak juga video Pulih dari Pandemi Covid-19, Pemerintah: Butuh Waktu Sangat Lama:

Selanjutnya
Halaman
1 2 3