Analisis IPW Soal Pergerakan 3 Gerbong Besar dalam Mutasi Perwira Polri

Audrey Santoso - detikNews
Minggu, 03 Mei 2020 04:41 WIB
Neta S Pane
Ketua Presidium IPW Neta S Pane (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Masih seputar fenomena, lanjut Neta, dimutasinya Irjen Luki Hermawan dari jabatan Kapolda Jatim menjadi Wakalemdiklat Polri menimbulkan tanda tanya. Neta mengungkapkan situasi di Jatim kondusif saat Pilpres 2019, bahkan Presiden Jokowi meraih kemenangan suara signifikan di wilayah tersebut. Namun tak dijelaskan lebih detail tentang apa kaitan Irjen Luki dengan kemenangan Presiden Jokowi di Jatim dalam Pilpres 2019.

"Fenomena yang tak kalah menarik adalah digesernya Kapolda Jatim ke posisi wakalemdikpol. Padahal di masa pilpres 2019, Jatim sangat aman dan kondusif serta memberikan suara kemenangan yg signifikan bagi kemenangan Jokowi dalam perolehan suara. Jadi pertanyaan memang, kenapa Kapolda Jatim tergeser ke Wakalemdikpol, sementara ada Kapolda yang 'tidak berdarah darah' di Pilpres 2019 dinaikkan jadi bintang tiga. Fenomena ini sangat ironis, jika dilihat lagi bahwa Pangdam Brawijaya belum lama ini naik posisi menjadi jenderal bintang tiga," ungkap Neta.

Neta juga memandang dalam mutasi kali ini, alumni Akpol yang satu angkatan dengan Idham Azis, serta anggota Polri yang pernah bertugas di Densus 88 Antiteror diangkat ke jabatan strategis. Untuk diketahui, Idham Azis lama bertugas di Densus 88 Antiteror.

"Mutasi kali ini juga membawa sejumlah teman teman satu angkatan Akpol dengan Idham Azis bergeser ke tempat strategis. Begitu juga beberapa alumni Densus 88 bergeser ke tempat strategis," sebut Neta.

Kendati demikian, Neta melihat beberapa anggota Polri yang dekat dengan Mendagri Tito Karnavian, saat masih menjabat sebagai Kapolri, tergeser dari jabatan strategis di Polri. "Di sisi lain ada beberapa orangnya Tito Karnavian tergeser, dan ada yang masih bertahan di posisi strategis," imbuh Neta.

Terakhir, Neta mengingatkan mutasi di tubuh Polri harus berjalan secara profesional, modern dan terpercaya (promoter). Apalagi, tambah Neta, saat ini kondisi bangsa sedang tak kondusif akibat wabah virus Corona (COVID-19) yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) dan krisis ekonomi yang berpengaruh terhadap keamanan masyarakat.

"IPW hanya mengingatkan mutasi ini harus bisa menjadikan Polri benar-benar Promoter, karena tantangan Polri ke depan cukup berat. Dampak pademi COVID-19 telah membuat banyak pihak terpuruk ekonominya, ancaman PHK di depan mata, berbagai industri makin terkapar, dan kesulitan ekonomi makin parah jika wabah COVID-19 tidak berkesudahan," jelas Neta.

"Artinya, ke depan polri tidak sekadar menghadapi tingkah pola para kriminal, tapi ancaman konflik sosial sebagai dampak pandemi COVID-19, patut dicermati. Apalagi saat ini sudah ada pihak yang menamakan dirinya Anarko, yang memprovokasi massa untuk membuat kerusuhan. Sehingga intelijen kepolisian dituntut bekerja keras untuk melakukan antisipasi dan deteksi dini," pungkas Neta.

Sebelumnya, melalui Surat Telegram bernomor ST/1377/V/KEP./2020; ST/1378/V/KEP./2020, ST/1381/V/KEP./2020, ST/1382/V/KEP./2020 dan ST/1383/V/KEP./2020ntertanggal 1 Mei 2020, Kapolri Jenderal Pol Idham Azis merombak besar-besaran posisi sejumlah perwira tinggi dan menengahnya.


(aud/fjp)