Coba Bertani Kayu Putih Panen Puluhan Juta Rupiah? Ikuti Cara Petani Ini

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Minggu, 03 Mei 2020 08:47 WIB
Petani minyak kayu putih
Foto: Faidah Umu Sofuroh
Jakarta -

Kayu Putih jadi salah satu obat-obatan yang paling diandalkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain hangat di tubuh, wanginya yang khas membuat kayu putih banyak disukai masyarakat. Betapa menariknya jika bisa memproduksi sendiri minyak kayu putih bahkan bisa menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Menurut petani Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali,

Ketua Kelompok Tani Wonolestari I, Sojo, mengungkapkan kepada detikcom beberapa waktu lalu bahwa merawat tanaman kayu putih cukup mudah. Sebab, tanaman ini bisa hidup di berbagai jenis lahan. Bahkan orang yang memiliki lahan di rumah pun bisa menanamnya, lho.

Ia berujar bahwa tanaman kayu putih merupakan tanaman yang jarang dihinggapi hama jika sudah tumbuh besar. Sehingga risiko untuk gagal panen pun cenderung sedikit. Hama tanaman kayu putih adalah rayap, itu pun hanya menyerang tanaman yang masih berusia muda.

"Untungnya kayu putih itu nggak rewel, nggak terlalu banyak hal yang harus diperhatikan. Paling ya ditanam, kemudian langsung diberi pupuk, sama dipanen di waktu yang tepat, sekitar 6 bulan sekali di musim kemarau," jelasnya beberapa waktu lalu.Ia pun mengungkapkan cara petani Wonoharjo menanam kayu putih hingga berhasil sampai sekarang.

Pertama ia sempat membuat pembibitan kayu putih. Pembibitan ini dilakukan agar tak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk membeli bibit pohon kayu putih.

"Dari petani sudah membuat pembibitan, pembibitannya kemarin dapat 60 ribu pohon, sekarang sudah ditanam habis," tambahnya.

Menurutnya, metode penanaman secara stek akan mengurangi risiko gagal tumbuh dibandingkan menggunakan tebar benih. Untuk bibit stek kayu putih, imbuhnya, dapat diperoleh dengan harga Rp1.500 saja per batang. Kemudian untuk meningkatkan produksi sebaiknya menanam kayu putih dengan ukuran 2 x 3 meter.

"Dari petani dirintis, untuk tanaman kayu putihnya agak dirapatkan. Ini tanamannya kan dulunya 4 x 3 meter, sekarang dirapatkan menjadi 2 x 3 meter supaya hasilnya dari kayu putih lebih banyak gitu," terangnya.

Sehingga, sekarang dalam satu hektare lahan, para petani bisa menanam 6.000 pohon jika ditanam dengan jarak jarak tanam 2 x 3 meter. Dari 6.000 pohon itu akan menghasilkan 18 ton daun kayu putih yang bisa menghasilkan kurang lebih 126 kilogram (kg).

Setelah melakukan perapatan jarak tanam, melakukan penyulingan juga menjadi salah satu cara menggenjot produksi minyak kayu putih. Para petani di desa ini amat terbantu karena telah ada alat penyulingan hasil dari Corporate Social Responsibility (CSR) BRI.

Penambahan alat penyulingan ini juga menambah produktivitas, efektivitas serta penghasilan dari petani. Sebab, ketika satu alat suling mampu hasilkan 14 kg minyak kayu putih per hari, kini dengan 2 alat suling mampu menghasilkan 28 kg minyak kayu putih per hari.

"Dengan adanya tambahan alat suling dari BANK BRI, saya sebagai petani berterima kasih nanti bisa menambahkan hasil untuk pemasakan daun kayu putih dan bisa menambah penghasilan juga untuk kelompok. Karena kan dulu cuma 2 kali masak, sekarang jadi bisa 4 kali masak, selain bisa menambah penghasilan, juga bisa mempercepat kinerja," pungkasnya.

(mul/mul)