Berkualitas, Minyak Kayu Putih Petani Wonoharjo Diakui Merek Ternama

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Sabtu, 02 Mei 2020 05:30 WIB
Minyak Kayu Putih
Foto: dok. detikcom/Didik Dwi H
Boyolali -

Selama puluhan tahun petani Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, membudidayakan tanaman kayu putih. Akhirnya kini para petani bisa memproduksi minyak kayu putih secara mandiri.

Ketua Kelompok Tani Wonolestari I, Sojo, mengaku produk minyak kayu putih hasil sulingan Desa Wonoharjo memiliki kualitas yang baik. Terlebih salah satu perusahaan farmasi Cap Lang juga sudah mengecek kandungan dan kualitas minyak yang dihasilkan di Desa Wonoharjo.

"Perbedaanya dengan produk dari tempat lain ya, tempat kita itu bisa menghasilkan minyak yang lebih banyak. Untuk satu ketel sekitar satu ton daun kayu putih bisa menghasilkan 6-7 kg minyak. Terus dari Cap Lang juga sudah ngecek dua bulan lalu, mereka bilang kalau kualitasnya sudah baik, memenuhi standar," ungkapnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Sojo memiliki harapan agar budidaya tanaman kayu putih di desanya ini dapat berkembang lebih jauh lagi. Sebab, menurutnya, produksi minyak putih di Indonesia masih belum memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Senada dengan pernyataan Sojo, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), saat ini kebutuhan minyak kayu putih dalam negeri berada di kisaran 4.500 ton per tahun. Namun, saat ini pasokan dalam negeri baru mencapai 2.500 ton per tahun.

Lantaran itu, pemerintah terus menggenjot produksi minyak kayu putih dengan menerapkan program perhutanan sosial di beberapa daerah. Boyolali tepatnya di Desa Wonoharjo merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa yang memiliki komoditas kayu putih dari program tersebut.

"Saya menindaklanjuti program itu di lahan Perhutani. (Kami kelompok tani) dikasih lahan 433 hektare, itu ada 2 kelompok yang mengelola, Wonolestari I dan II. Kontraknya ada 35 tahun," ucapnya.

Di pelataran Waduk Kedung Ombo, 433 hektare lahan perkebunan kayu putih ini berada. Lewat lahan ini, para petani hutan Desa Wonoharjo menggantungkan nasibnya melalui tanaman-tanaman budidaya.

Sojo menjelaskan, untuk membuat daun menjadi minyak kayu putih, Kelompok Tani Wonolestari I & II memanfaatkan alat penyulingan yang diberikan oleh pemerintah bersamaan dengan dimulainya program perhutanan sosial 2018 silam.

"Tadinya sehari itu kan kita cuma bisa dua kali masak saja itu kira-kira ya sekitar 14 kg minyak per hari. Dengan adanya tambahan alat suling dari BANK BRI, saya sebagai petani berterima kasih. Karena kan sekarang jadi bisa empat kali masak. Penghasilannya juga bisa meningkat dua kali lipat dari sebelumnya," ungkapnya.

Sojo juga mengatakan setelah petani memiliki alat dan tempat penyulingan kayu putih, pendapatan petani tak lagi bergantung pada hasil panen saja. Alat penyulingan ini, lanjutnya, berguna untuk memberdayakan para petani khususnya petani hutan di Desa Wonoharjo.


"Kalau dulu kan nggak dibayar sama sekali, kita cuma petik saja, itu juga nggak dibayar. Tapi sekarang kita ada penghasilan dari mulai penanaman, petik daunnya, sampai penyulingan juga ada biaya masaknya bisa untuk tambah-tambah (penghasilan)," tuturnya.

Meskipun kini hasil penyulingan masih dijual ke Perum Perhutani karena adanya perjanjian kerja sama (PKS), tapi Sojo memiliki keinginan lebih terhadap usaha kayu putih ini. Ia berharap nantinya para petani akan memiliki usaha pengelolaan minyak kayu putih sendiri.

"Kalau dari PKS-nya sekarang kan bagi hasilnya 20% untuk petani 80% untuk Perum, kita maunya dibalik supaya penghasilan petani lebih maksimal. Rencananya dari pengelolaannya mau dikelola sendiri, jadi hasil minyaknya mau dipasarkan sama kelompok sendiri, jadi tidak melalui Perum, jadi harganya bisa meningkat, hasilnya juga meningkat," tandasnya.

Kayu Putih Hidupkan Desa Wonoharjo

(ega/ega)