Bentrok Antarwarga Pecah di Keerom Papua karena Sengketa Lahan, 1 Orang Tewas

Wilpret Siagian - detikNews
Jumat, 01 Mei 2020 19:12 WIB
Ilustrasi tawuran
Foto: Ilustrasi oleh Edi Wahyono/detikcom
Jayapura -

Bentrok antarwarga terjadi di Kampung Bate dan Kampung Ifia-ifia, Distrik Arso Barat, Keerom, Papua. Akibat bentrok ini, 1 orang meninggal dunia.

"Bentrok terjadi akibat sengketa lahan. Mengakibatkan warga luka-luka dan 1 orang meninggal dunia," ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Mosthofa Kamal kepada detikcom, Jumat (1/5/2020).

Menurut Kamal, peristiwa yang terjadi sekitar pukul 15.50 WIT tadi itu berawal ketika alat berat eksavator yang dipekerjakan Serfanus Bate untuk membuat batas tanah yang disengketakan ditahan oleh kelompok Melki Siamba dan Lekius Enembe pada Rabu (29/4) lalu. Hal tersebut menyulut kemarahan dari masyarakat Kampung Bate.

"Itu terjadi pada Rabu, 29 April 2020. Saat itu pihak Serfanus Bete telah melapor ke Polres Keerom, kemudian anggota Polres Keerom dipimpin Ipda Billy Sahureka mendatangi Kompleks perumahan Lekius Enembe dan Melki Siamba untuk menyelesaikan masalah tersebut di Polres Keerom tetapi pihak Melki Siamba dan Lekius Enembe tidak berkenan dan mengusir anggota dengan mengancam menggunakan senjata tajam dan batu sehingga anggota mundur dan kembali ke Polres Keerom," jelas Ahmad.

Kemudian pihak Polres Keroom memfasilitasi mediasi pada Kamis 30 April 2020. Kasat Reskrim Iptu Bertu H. Eka Anwar didampimgi KBO Sat Intelkam Polres Keerom Iptu Katman mendatangi kediaman Melki Siamba dan Lekius Enembe untuk menanyakan permasalahan sengketa lahan yang berujung pada penahanan alat berat tersebut.

Dari penyampaian Melki Siamba dan Lekius Enembe, alat berat ditahan karena pihak Serfanus Bate tidak berkoordinasi dengan mereka.

"Jadi alasan mereka alat berat kerja melewati batas (tanah milik Melki Siamba) sesuai dengan kesepakatan surat pernyataan di Polres Keerom tanggal 7 April 2020 yaitu dengan batas tanah dari Kali Kaibo Bariakawatae ke arah Arso 6 sampai dengan Jalan Baru Swakarasa-Arso 8 milik Serfanus Bate sedangkan batas dari Kali Kaibo Bariakawatae dari Jalan Arso 11 lahan sawit milik Melki Siamba," tutur Kamal.

Dalam mediasi itu, kedua belah pihak telah bersedia dilakukan penyelesaian oleh Polres Keerom. Mereka menyebut bersedia mengembalikan alat berat yang ditahan dan kemudian bersama-sama turun ke lahan yang disengketakan untuk pengukuran.

"Kami bersedia permasalahan ini diselesaikan di tempat kami dan meminta maaf kepada kami setelah itu alat baru kami kembalikan. kemudian bersama - sama turun ke lokasi untuk mengukur tanah tersebut," ujar Kamal menirukan pernyataan Serfanus Bate.

Namun belum Polres belum melakukan negosiasi terkait pembicaraan dengan pihak Melki Siamba dan Lekius Enembe, masyarakat dari Kampung Bate yang dipimpin Yulianus Kembu telah meluncur dari Kampung Ifia-ifia menggunakan mobil pikap dan 2 unit dan sepada motor. Mereka mendatangi Kompleks kediaman Melki Siamba dan Lekius Enembe.

"Intelkam Polres Keerom Iptu Katman sempat menghubungi Serfanus Bate yang sedang menuju ke kompleks Melki Siamba dan Lekius Enembe, agar masyarakatnya menahan diri dikarenakan Kapolres Keerom sedang menuju ke kompleks kediaman Melki Siamba dan Lekius Enembe untuk mediasi permasalahan tersebut," papar Kamal.

"Namun Kapolres belum tiba di tempat warga sudah saling serang menggunakan senjata tajam parang, panah dan jubi menyebabkan terdapat 7 korban luka dari kedua belah pihak," sambung Kamal.

Saat rombongan Kapolres Keerom tiba, kedua belah pihak masih bertikai. Personel polisi yang ikut dalam rombongan lalu melerai dan menenangkan massa. Korban luka, kata Kamal, dievakuasi ke RSUD Kwaingga Arso Swakarsa.

(elz/elz)