ADVERTISEMENT

IDI: Persebaran Dokter yang Tak Merata Jadi PR, Apalagi Saat Pandemi

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 01 Mei 2020 09:06 WIB
Ikatan Dokter Seluruh Indonesia (IDI) meminta Bareskrim Polri menangkap aktor intelektual kasus vaksin palsu. Permintaan pencarian aktor intelektual ini disampaikan Ketua Umum IDI dalam jumpa pers di kantor IDI, Jl Samratulangi 29, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/7/2016).
Adib Khumaidi (Foto: Agung Pambudhy)

Selain itu, Adib menuturkan sekitar 5 persen Puskesmas tidak memiliki dokter sama sekali. Sekitar 9 persen Puskesmas memiliki dokter namun lokasi tinggal dokter jauh dari Puskesmas.

"Di Indonesia bukan jumlah dokter kurang, tetapi sebaran tidak merata (maldistribusi). Di sisi lain, dari 9.731 puskesmas yang ada, 5 persen tak punya dokter sama sekali. Sementara 9 persen Puskesmas lain memiliki dokter, tetapi tempat tinggal dokternya jauh dari Puskesmas karena lokasi Puskesmas terpencil," katanya.

Lebih lanjut, Adib menyebut rasio dokter tersebut terpenuhi dalam kondisi normal. Dia mengatakan saat pendemi virus Corona kemampuan pelayanan akan berbeda dan masih menjadi pekerjaan rumah hingga saat ini.

"Apa yang saya sampaikan itu dalam kondisi normal. Maldistribusi dokter tentunya mengakibatkan juga pelayanan kesehatan dan kemampuan kesehatan di wilayah berbeda-beda. Sehingga apabila terjadi Pandemi seperti Pandemi COVID ini maka kemampuan pelayanan kesehatan akan berbeda. Ini yang harus diantisipasi," ungkap Adib.

"Apa yang disampaikan Pak Jokowi benar bahwa dalam kondisi normal ketersediaan SDM dokter akibat maldistribusi menjadi PR apalagi dengan kondisi 'extra ordinary' seperti pandemi COVID ini," sambungnya.

Untuk mengatasi rasio dokter tersebut, Adib menyebut perlu adanya pemetaan kemampuan kesehatan setiap wilayah. Pemerintah diharapkan mengambil langkah strategis dalam melakukan penanggulangan pelayanan kesehatan.

"Pada saat Pandemi COVID ini maka pemerintah daerah segera melakukan mapping kemampuan kesehatan wilayah masing-masing (ketersediaan faskes, SDM, sarana prasarana, logistik obat) sehingga apabila potensi outbreak terjadi maka segera diupayakan langkah-langkah strategis untuk memback-up pelayanan kesehatan di wilayah tersebut," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkap beberapa permasalahan kesehatan yang terlihat karena pandemi Corona. Seperti kurangnya fasilitas kesehatan hingga rasio dokter.

"Sebagai contoh, apa yang terjadi di sektor kesehatan, industri farmasi, bahan baku obat, kita saat ini masih impor, 95% masih impor. Alat-alat kesehatan, ada tidak? Apa yang bisa kita produksi sendiri dan apa saja yang kita beli dari negara lain? Sekarang kelihatan semuanya," ujar Jokowi saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional yang disiarkan di saluran YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (30/4).

"Lalu bagaimana dengan tenaga medis, rasio dokter, rasio dokter spesialis, perawat, apa cukup menghadapi situasi seperti saat ini?" kata Jokowi.


(lir/zak)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT