IDI: Persebaran Dokter yang Tak Merata Jadi PR, Apalagi Saat Pandemi

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 01 Mei 2020 09:06 WIB
Ikatan Dokter Seluruh Indonesia (IDI) meminta Bareskrim Polri menangkap aktor intelektual kasus vaksin palsu. Permintaan pencarian aktor intelektual ini disampaikan Ketua Umum IDI dalam jumpa pers di kantor IDI, Jl Samratulangi 29, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/7/2016).
Adib Khumaidi (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut jumlah dokter di Indonesia saat kondisi normal telah mencukupi. Namun, menurut IDI, persebarannya tidak merata.

"Secara jumlah dokter di Indonesia saat ini cukup untuk mencukupi seluruh rakyat. Masalahnya, dokter-dokter itu berkumpul di sejumlah kota dan provinsi tertentu," ujar Sekjen PB IDI Moh Adib Khumaidi saat dihubungi, Kamis (30/4/2020).

"Persebaran dokter tidak merata karena bertumpuk di Pulau Jawa ataupun kota-kota besar," imbuhnya.

Adib mengatakan, jika mengacu pada beban kerja ideal, rasio satu dokter telah terlampaui. Namun, rasio itu dihitung dengan asumsi 20 persen rakyat yang sakit dalam situasi normal.

"Jika mengacu pada perhitungan beban kerja ideal dokter yang ditetapkan pemerintah, rasio satu dokter untuk 2.500 penduduk terlampaui. Rasio itu dihitung berdasarkan jumlah penduduk dengan asumsi 20 persennya sakit, luas wilayah, beban kerja, dan waktu layanan," paparnya.

Berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia per 30 April, sebut Adib, setiap satu dokter melayani sekitar 1.400 penduduk Indonesia. Dia membandingkan dengan Malaysia yang di mana rasio satu dokter 1 melayani 1.100 penduduk.

"Menurut data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) per 30 April 2020, jumlah dokter (di Indonesia) 186.105 orang. Artinya, satu dokter melayani 1400-an penduduk. Di Malaysia rasio dokter 1:1100-an. Di Singapura, pada 2013, satu dokter untuk 513 penduduk," ungkap Adib.

Namun demikian, Adib menyebut pada umumnya dokter terkumpul di kota-kota besar. Di berbagai wilayah Indonesia kebutuhan dokter belum terpenuhi.

"Mereka umumnya terkumpul di kota besar dan provinsi tertentu. Sebagai perbandingan, di DKI Jakarta, sebagai provinsi dengan rasio dokter terbaik, satu dokter menangani 608 penduduk. Di Sulawesi Barat, provinsi dengan rasio terburuk, satu dokter mengurusi 10.417 penduduk," jelas Adib.

"Meski demikian, rasio satu dokter untuk 2.500 penduduk itu tak bisa diterapkan secara merata. Di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, rasio dokter belum terpenuhi akibat jumlah penduduk besar. Di Indonesia timur, standar itu sulit diterapkan akibat wilayah luas, medan sulit, dan penduduk terpencar," imbuhnya.

COVID-19 Diprediksi Mereda Bulan Juni, Apa Kata Dokter di Lapangan?:

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2