Soal Kejanggalan Kartu Pra Kerja Ditanggapi Ruangguru, Ini Kata Agustinus Edy

ADVERTISEMENT

Soal Kejanggalan Kartu Pra Kerja Ditanggapi Ruangguru, Ini Kata Agustinus Edy

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Kamis, 30 Apr 2020 23:44 WIB
Ilustrasi Kartu Pra Kerja
Ilustrasi Kartu Pra Kerja (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

CEO media daring, Agustinus Edy Kristianto, merespons penjelasan Public Relations Lead Ruangguru, Sekar Krisnauli, terkait dua jenis sertifikat yang dikeluarkan oleh Skill Academy, yaitu sertifikat 'Completion' atau penyelesaian materi dan sertifikat 'Excellence'. Apa kata Agustinus?

Dalam unggahan di akun Facebook-nya, Agustinus mengakui bahwa dia tidak menonton 11 video di Skill Academy Ruangguru dari Program Kartu Pra Kerja secara utuh sehingga dia tidak mendapatkan sertifikat 'Completion'. Namun Agustinus menyebut sertifikat 'Completion' bisa didapat hanya dengan cara mempercepat video di pelatihan tersebut.

"Nah, sekarang saya sudah 'selesaikan' ke-11 video itu. Kenapa saya pakai tanda kutip? Kalau kemarin itu saya sama sekali tidak buka video 2-11, sekarang saya buka semuanya. Tapi saya percepat saja menitnya atau fast forward supaya cepat selesai. Saya tidak simak materi videonya. Hasilnya tanda centang hijau di setiap video. Artinya, saya sudah menyelesaikan. Sampai tertulis progress 100%. Saya kasih bintang 3 lagi. Saya isi review: Salam 5,6 Triliun. Saya unduh sertifikat. Keluar Certificate of Completion. Diteken oleh Director Skill Academy Iman Usman," tulis Agustinus Edy dalam akunnya pada Kamis (30/4/2020).

Menanggapi Ruangguru yang mengatakan sertifikat dari Skill Academy adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga swasta sebagai tanda partisipasi dan tidak untuk menyertifikasi profesi, Agustinus menganggap itu sebagai hal yang sah. Menurutnya, melalui pernyataan itu, masyarakat dapat semakin menyadari bahwa sertifikat Kartu Pra Kerja bukanlah bukti atas sebuah kompetensi, melainkan hanya tanda partisipasi belaka.

"Menurut saya, sah-sah saja berkata begitu. Tapi kan positifnya adalah sekarang masyarakat jadi jelas bahwa sertifikat prakerja itu jangan dibayangkan sebagai sebuah bukti kompetensi profesi/sertifikasi profesi. Itu hanya TANDA PARTISIPASI atau PENGUASAAN MATERI. So, jangan sekali-kali dipakai buat melamar kerja," kata Agustinus.

Selain itu, Agustinus mengungkapkan keluh kesahnya kepada Presiden Joko Widodo terkait Kartu Pra Kerja. Menurutnya, bantuan insentif Rp 600 ribu per bulan harus diprioritaskan daripada program pelatihan di platform digital apabila pemerintah ingin menolong korban PHK.

"Yang membuat saya gundah-gulana adalah sampai hari ini, dengan sebegitu banyak kritik masyarakat terhadap program pembelian video pelatihan Rp 5,6 triliun, Presiden Jokowi sama sekali belum bersuara tentang rencana mengevaluasi atau membatalkan program itu. Hari ini Presiden malah bermanuver dengan berkata Kartu Prakerja diprioritaskan untuk korban PHK," sesal Agustinus.

"Tentu korban PHK perlu ditolong segera. Jika ingin menolong tentu prioritas adalah pemberian insentif tunai Rp 600 ribu/bulan itu. Bukan beli pelatihan dengan saldo nontunai Rp 1 juta di platform digital. Kekuatan 'gaib' apakah yang bisa sedemikian melindungi proyek Rp 5,6 triliun ini," kata Agustinus.

Berikut ini merupakan pernyataan lengkap dari Agustinus Edy:

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT