MPR: Mengusir Perawat Itu Melawan Hati Nurani, Bukan Kebaikan

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Kamis, 30 Apr 2020 19:22 WIB
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah
Foto: CNN Indonesia/Feybien Ramayanti
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengajak masyarakat untuk menghentikan stigmatisasi terhadap para tenaga medis yang menangani pasien COVID-19. Ia menilai mereka layak disebut pahlawan medis Indonesia atas jasa dan dedikasi kepada bangsa dan negara.

"Para perawat itu pasti melaksanakan tugas mereka dengan protokol kesehatan yang ketat, misalnya mengenakan alat perlindungan diri secara maksimal dan berdisiplin. Mereka juga tak mau terpapar COVID-19," ujar Basarah dalam keterangannya, Kamis (30/4/2020).

"Jadi mari gunakan hati nurani kita dengan baik, perlakukan mereka layaknya pahlawan,'' imbuhnya.Hal itu diungkapkannya setelah melihat sejumlah besar penolakan warga di berbagai daerah terhadap tenaga medis, khususnya tenaga perawat, untuk tinggal di tengah masyarakat.

Peristiwa paling aktual terjadi ketika tiga perawat RSUD Bung Karno Solo, Jawa Tengah, diusir oleh induk semang dari tempat mereka mengontrak rumah di kawasan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, awal pekan ini.

Mereka kini terlunta-lunta lalu ditempatkan untuk sementara di sebuah ruangan lantai lima RSUD Bung Karno Solo. Sebelumnya, peristiwa serupa juga terjadi Malang, Jakarta, Palembang, Gorontalo, Yogyakarta, dan Bandung.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu menilai penolakan terhadap para tenaga medis itu terjadi karena dua sebab. Pertama, masyarakat kurang paham terkait penularan virus. Kedua, informasi mengenai COVID-19 lebih banyak diisi dari sisi negatif sehingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan di tengah masyarakat.

''Akibat kombinasi dua faktor itu, muncullah proses stigmatisasi bukan saja terhadap penderita COVID-19, tapi juga terhadap mereka yang berada di garis depan merawat dan menyembuhkan para pasien COVID-19 itu,'' ungkap Basarah.

Untuk itu, dosen Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) ini mengajukan solusi dengan mengajak pemerintah, relawan, media massa, serta pihak-pihak terkait untuk lebih banyak mengedukasi publik dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik terkait penularan dan pencegahan COVID-19, khususnya tentang peran dan sumbangsih para tenaga medis.

Edukasi ini bisa dilakukan lewat dialog di media televisi dan radio, iklan di media cetak, pamflet dan brosur berisi edukasi serta banyak cara lain yang intinya melarang stigmatisasi terhadap para pasien dan tenaga medis COVID-19.

"Kita adalah bangsa agamis. Agama-agama yang kita anut semuanya mengajarkan kebaikan. Mengusir para perawat itu melawan hati nurani, bukan kebaikan. Seharusnya bukan perawat yang diusir dan dijauhi, tapi bagaimana kita bergotong-royong mengusir virus dari bumi Indonesia,'' jelas sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) ini.

Selain itu, sebagai jalan keluar lainnya, Basarah menyarankan agar pemerintah sambil melakukan edukasi juga menyiapkan rumah singgah bagi tenaga medis untuk sementara waktu.

Sebagai contoh seperti yang dilakukan Kementerian Riset dan Teknologi yang mengalihfungsikan bangunan di Gedung Wisma Tamu Puspiptek menjadi rumah singgah bagi tenaga kesehatan di Tangerang Selatan.

"Peran para tenaga medis seharusnya dihormati dan diapresiasi setinggi-tingginya karena dalam kondisi seperti ini, mereka ikut mempertaruhkan nyawa saat berada di garda terdepan," ujarnya.

"Masyarakat hendaknya memberikan dukungan dengan menunjukkan rasa empati dan simpati, bukan malah mengucilkan dan mengusir mereka,'' pungkas Basarah.

(mul/mpr)