Titik Panas di Sumsel Mencapai Ribuan di Tengah Pandemi Corona

Raja Adil Siregar - detikNews
Selasa, 28 Apr 2020 11:45 WIB
Satgas Karhutla Riau terus berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Minggu (22/9/2019). Kebakaran lahan yang meluas dan mulai mengancam permukiman penduduk di kawasan tersebut membuat petugas terus melakukan upaya pemadaman hingga malam hari. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/foc.
Ilustrasi karhutla (Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Palembang -

Pemprov Sumatera Selatan tidak hanya harus waspada terhadap virus Corona (COVID-19). Sebab, selama 4 bulan terakhir penyebaran titik panas atau hotspot kini telah mencapai ribuan.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan BPBD Sumatera Selatan, Ansori menyebut titik panas sudah terpantau sejak Januari. Setidaknya, dalam rentang waktu Januari hingga pertengahan April ada sekitar 1.113 titik hotspot tersebar di sejumlah wilayah.

"Titik hotspot di OKI (Ogan Komering Ilir) paling banyak dengan 266 titik. Disusul Muara Enim dengan 204 titik dan Musi Banyuasin dengan 192 titik," kata Ansori kepada wartawan, Selasa (28/4/2020).

Ansori mengatakan pantauan hotspot saat ini dilakukan dengan menggunakan 5 satelit. Seperti satelit Aqua, Landsat-8, NOAA, SNPP serta satelit Terra.

"Dengan begitu pendeteksian hotspot lebih akurat. Di mana setiap satelit juga memiliki keunggulan masing-masing," katanya.

Namun Ansori menilai, meski telah banyak terdeteksi hotspot, kondisi cuaca sekarang tidak memungkinkan api dapat menyebar. Hal ini karena curah hujan masih tinggi dan lahan gambut masih tergenang air.

"Kalau berdasarkan prediksi analis BMKG, kemarau baru jatuh pada Dasarian ketiga bulan Mei. Jadi sampai sekarang lahan ini masih tetap basah terendam air," katanya.

Sementara itu Sekretaris Daerah Sumatera Selatan Nasrun Umar mengatakan kejadian karhutla tetap menjadi perhatian Pemprov Sumsel. Bahkan anggaran pencegahan dan penanggulangan Karhutla ditingkatkan Rp 37 miliar dari tahun lalu Rp 1,7 miliar.

Anggaran sendiri dikucurkan untuk daerah rawan seperti OKI, Rp 6 miliar, Ogan Ilir Rp 5 miliar, Banyuasin Rp 5 miliar, Muba Rp 5 miliar, Muara Enim Rp 5 miliar dan Pali Rp 5 miliar. Sepanjutnya ada Muratara Rp 1 miliar OKU Timur Rp 2 miliar dan OKU Rp 2 miliar.

"Dana ini adalah dana stimulus bagi daerah dalam menangani karhutla," terang Nasrun Umar.

"Melalui tim terpadu dengan berpedoman COVID-19 mengenai social distancing, tim tetap melaksanakan evaluasi kesiagaan. Terutama pengendalian karhutla terhadap unit usaha, kegiatan dan membangun komitmen dengan unit-unit usaha di atas sektor perkebunan dan kehutanan serta pencegahan karhutla tahun 2020," tutup Nasrun.

(ras/mae)