BMKG: Potensi Risiko Tsunami di Ibu Kota Baru Bantu Siapkan Mitigasi Bencana

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 28 Apr 2020 03:56 WIB
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono (Eva-detikcom)
Foto: Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono (Eva-detikcom)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengapresiasi kajian ilmuan Inggris yang menyebut adanya potensi resiko tsunami di Ibu Kota baru. BMKG menyebut kajian tersebut membantu Indonesia dalam memitigasi bencana.

"Kami tentu mengapresiasi penelitian ini, karena selain memperkaya khasanah pengetahuan kita terkait bahaya sedimentasi dan longsoran di dasar laut juga memberi petunjuk kepada kita adanya potensi bahaya tsunami akibat longsoran di dasar laut Selat Makassar," kata kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangannya dalam keterangan tertulis, Senin (27/4/2020).

"Hasil kajian ini dapat membantu kita dalam mengestimasi tingkat bahaya tsunami yang mungkin terjadi, sehingga kita dapat menyiapkan strategi mitigasinya," imbuhnya.

Daryono mengatakan ada beberapa kasus tsunami masa lalu yang belum terungkap penyebabnya. Dalam dugaan tsunami tersebut berhubungan dengan longsoran dasar laut. Seperti tsunami Teluk Amabon 1708 hingga tsunami Helmahera Utara tahun 1969.

"Di Indonesia, ada beberapa kasus tsunami masa lalu yang hingga kini belum terungkap penyebabnya, diduga tsunami ini berasosiasi dengan longsoran dasar laut.
Dalam semua peristiwa tersebut, tsunami tidak didahului oleh aktivitas gempa tektonik," jelasnya.

Selain itu, ada beberapa stunami lainnya yang belum diketahui penyebabnya hingga sekarang. Peristiwa tersebut juga belum bisa disimpulkan berasal dari longsoran laut.

"Peristiwa Tsunami Pulau Sumber Gelap 1917 hingga kini belum diketahui sebabnya. Tsunami setinggi 1,5 meter ini teramati di Pulau Sumber Gelap dan menimbulkan kerusakan parah di Pantai Pagatan Kalimantan Selatan. Adakah kaitan peristiwa tsunami ini dengan fenomena longsoran dasar laut seperti yang dimaksud dalam kajian peneliti asing tersebut? Hingga kini masih menjadi misteri, tentu perlu ada kajian khusus yang mendalam termasuk kajian paleotsunami untuk menjawabnya," ucapnya.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2