Kasus Suap Pengadaan Pesawat Garuda, Emirsyah Satar Dituntut 12 Tahun Bui

Ibnu Hariyanto - detikNews
Kamis, 23 Apr 2020 20:02 WIB
Direktur Utama Garuda Indonesia periode 2005-2014, Emirsyah Satar meninggalkan Gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/7/2019) usai diperiksa penyidik.
Emirsyah Satar (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia (Persero), Emirsyah Satar dituntut 12 tahun penjara karena diyakini menerima suap terkait pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C. Emirsyah dinilai melakukan tindak pidana korupsi menerima uang senilai totalnya sekitar Rp 46 miliar.

"Menjatuhkan pidana penjara selama 12 tahun dikurangi terdakwa selama berada dalam tahanan dan pidana denda sebesar Rp 10 miliar dengan ketentuan bila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana 8 bulan kurungan," kata Jaksa KPK membacakan surat tuntutan melalui telekonferensi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (23/4/2020).

Sumber uang itu disebut jaksa berasal dari Airbus S.A.S, Rolls-Royce PLC, Avions de Transport Regional (ATR), dan Bombardier Inc. Untuk pemberian dari Airbus, Rolls-Royce, dan ATR disebut jaksa mengalir melalui Connaught International Pte Ltd dan PT Ardhyaparamita Ayuprakarsa milik Soetikno Soedarjo, sedangkan dari Bombardier disebut melalui Hollingsworld Management International Ltd Hong Kong dan Summerville Pacific Inc.

Berikut ini rincian pemberian uang untuk Emirsyah yang totalnya sekitar Rp 46 miliar:
- Rp 5.859.794.797
- USD 884.200 (atau sekitar Rp 12,3 miliar)
- EUR 1.020.975 (atau sekitar Rp 15,9 miliar)
- SGD 1.189.208 (atau sekitar Rp 12,3 miliar)

Selain suap, Emirsyah diyakini melakukan tindak pidana pencucian uang. Pencucian uang yang dilakukan Emirsyah bersama Soetikno Soedarjo dari suap pengadaan pesawat tersebut.

Selanjutnya
Halaman
1 2