Komnas Perempuan Sebut Wabah Virus Corona Picu Timbulnya Kasus KDRT

Yulida Medistiara - detikNews
Rabu, 22 Apr 2020 21:03 WIB
ilustrasi kdrt
Ilustrasi KDRT. (Foto: dok detikcom)
Jakarta -

Komnas Perempuan menerima sejumlah aduan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan gender berbasis siber (KGBS) selama pandemi virus Corona (COVID-19). Komnas Perempuan menilai wabah virus Corona juga menjadi pemicu timbulkan kasus KDRT.

"Sampai 17 April dari bulan Januari Komnas Perempuan menerima pengaduan (kasus KDRT) melalui email 204 kasus, UPR (Unit Pengaduan untuk Rujukan) ini melalui telefon langsung 268 kasus, surat 62 kasus," kata Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah, dalam diskusi bertajuk 'Fenomena KDRT Terhadap Perempuan Selama COVID-19', yang disiarkan melalui akun YouTube LBH Jakarta, Rabu (22/4/2020).

Dia mengatakan belum dapat mengklasifikasikan angka tersebut berdasarkan kasus per kasus. Sementara itu justru yang mengalami kenaikan adalah aduan terkait kekerasan gender berbasis online.

"Kami belum bisa menyimpulkan apakah ada kenaikan untuk KDRT, tapi yang jelas justru kenaikan ini terjadi di kekerasan gender berbasis Siber (KGBS) atau kekerasan gender online. Ini hampir setiap hari terdapat 3-5 kasus tentang KGBS," ujarnya.

Ia mengatakan selama wabah COVID-19 ini banyak orang mengikuti imbauan pemerintah untuk tetap berada di rumah, kemudian masyarakat menghabiskan waktunya di media sosial. Dengan demikian potensi adanya kekerasan seksual juga ada di medsos.

"Pertanyaannya kenapa KDRT ini tidak naik justru KGBS yang naik pertama sekarang hampir semua orang hidupnya beralih ke dunia maya sehingga potensi melakukan kekerasan seksual juga beralih ke dunia maya," ungkapnya.

Ia mengatakan untuk kasus kekerasan gender online rata-rata berbentuk text. Misalnya ancaman terkait video atau foto asusila terhadap korban.

"Misalnya pengiriman berkonten asusila baik dari WA, SMS, dan ketika relasi personal ya. Misalnya sebelum COVID-19 mereka memiliki video atau foto intim, di masa COVID-19 ini korbannya nggak bersedia VCS, maka ada ancaman untuk menyebarkan itu," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2