5 Fakta Corona di Ekuador yang Sempat Laporkan 6.000 Kematian

Rosmha Widiyani - detikNews
Rabu, 22 Apr 2020 12:53 WIB
Horor! Begitulah yang terjadi di Ekuador. Mayat hingga peti jenazah bergeletakan di jalanan saat pandemi Corona (Covid -19). Begini penampakannya.
Foto: Getty Images/5 Fakta Corona di Ekuador yang Sempat Laporkan 6.000 Kematian
Jakarta -

Kasus virus corona masih menunjukkan peningkatan di berbagai wilayah dunia, tak terkecuali Ekuador. Pasien positif Corona di Ekuador bahkan menjadi salah satu yang tertinggi di Amerika Latin.

Dikutip dari situs National Public Radio (NPR), Ekuador sempat melaporkan 6.703 kematian akibat COVID-19 dan penyebab lainnya. Sebelum terjadi corona di Ekuador, jumlah kematian per bulan adalah sekitar seribu kasus.

"Ini adalah kenyataan sulit yang kita hadapi," kata kepala satuan tugas Jorge Wated yang mengumpulkan dan menguburkan mayat di Guayaquil, Ekuador.

Angka kematian yang mencapai 6 ribu kasus terjadi di 15 hari pertama pada bulan April 2020. Selain sempat melaporkan 6 ribu kasus kematian dalam sehari, berikut fakta lain soal corona di Ekuador.

1. Corona di Ekuador menyebabkan kematian tertinggi

Pemerintah memang melakukan berbagai hal untuk menyelamatkan warganya, namun jumlah kematian akibat corona di Ekuador masih menjadi salah satu yang tertinggi. Hingga Senin (20/4/2020), ada 10.128 kasus COVID-19 dengan 507 kematian, padahal penduduk Ekuador hanya 17 juta orang.

Namun, total kasus dan kematian kemungkinan lebih besar daripada data yang diketahui pemerintah. Menurut menteri dalam negeri MarĂ­a Paula Romo, kondisi ini diakibatkan minimnya tes untuk menguji virus corona di seluruh negeri.

"Kami harus mengatakan yang sebenarnya. Jumlah kematian dan kasus yang berhasil diketahui terlalu rendah. Selain itu, tes virus corona tidak tersedia cukup untuk masyarakat," kata Romo.

2. Corona di Ekuador disebabkan kebiasaan masyarakat

Wilayah yang paling merasakan dampak buruk corona di Ekuador adalah Guayaquil salah satu kota terbesar di negara tersebut. Banyak warga yang merupakan pekerja migran atau peserta pertukaran pelajar kembali ke kota tersebut dari Italia dan Spanyol. Keduanya adalah negara yang juga terdampak parah virus corona.

Mereka yang kembali dalam rangka libur musim semi kemungkinan terinfeksi virus corona dan menyebarkan ke warga lainnya. Penyebab lainnya adalah penduduk yang padat dan tingkat kedisiplinan yang rendah. Penduduk terus melanggar aturan lockdown yang ditetapkan pemerintah pada 17 Maret 2020 lalu untuk pergi kerja.

"Sangat sulit menyarankan masyakat tetap tinggal di rumah," kata jurnalis televisi Dayanna Monroy yang mengatakan masih terjadi kemacetan dan kepadatan warga.

3. Pasien corona di Ekuador meninggal di rumah

Banyaknya kasus hingga tak tertangani menyebabkan beberapa pasien corona di Ekuador meninggal di rumah. Hal ini dikatakan Dr Eduardo Herdocia yang ikut menangani pasien terinfeksi virus corona. Rumah sakit yang penuh mengakibatkan Dr Herdocia mendatangi tiap pasien yang menelepon fasilitas kesehatan tersebut.

"Banyak pasien yang perlu perawatan rumah sakit, namun RS dan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan telah penuh. Mereka berkeliling sepanjang malam mencari rumah sakit yang menerima pasien tapi tidak ada yang kosong. Kamu merasa sangat tidak berdaya," kata Dr Herdocia.

Usaha Dr Herdocia tidak selalu berbuah kesembuhan atau penanganan pasien corona. Dalam beberapa kasus, pasien sudah terlanjur meninggal ketika Dr Herdocia sampai di rumah. Akibatnya beberapa pasien corona di Ekuador meninggal di rumah bukan fasilitas kesehatan.

4. Bagian penguburan kesulitan menangani corona di Ekuador

Tingginya angka kematian corona di Ekuador mengakibatkan bagian pemakaman kesulitan menangani jenazah. Beberapa jenazah ada yang hanya dibungkus plastik, seprei, dan dipindahkan keluar rumah saat tubuhnya mulai mengeluarkan bau. Tubuh jenazah tergeletak selama beberapa hari di jalan.

"Kira-kira ada 300 mayat di dalam rumah dengan sebagian ada yang sudah meninggal 3-5 hari lalu," kata Wated.

Pemerintah Ekuador mengerahkan tentara untuk membawa jenazah ke pemakaman, salah satunya Parques de la Paz yang memiliki area terluas di Guayaquil. Protokol sebetulnya mengharuskan jenazah corona di Ekuador dikremasi untuk mencegah penyebaran infeksi. Namun area tersebut hanya bisa mengkremasi paling banyak 8 jenazah per hari sehingga sebagian besar harus dikubur. Area pemakaman harus menyewa tiga backhoe untuk menangani penguburan jenazah yang sangat banyak.

5. Corona di Ekuador awalnya dianggap penyakit orang kaya

Dikutip dari BBC, corona di Ekuador sempat dianggap penyakit orang kaya. Di sepanjang Amerika Latin, virus dianggap berasal dari mereka yang sering bepergian.

Namun para ahli berpendapat, penyebaran virus berasal dari tingginya interaksi dan komunikasi Ekuador dengan negara tetangga misalnya Spanyol. Jalur transportasi mencakup Guayaquil yang merupakan kota pelabuhan yang sangat padat dan ramai. Kasur corona di Ekuador pertama terjadi pada seorang wanita yang kembali dari Spanyol.

(row/erd)