Pakar Epidemiologi Kritik Luhut soal Angka Kematian, Minta Kritis Baca Data

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 15 Apr 2020 18:48 WIB
Ilustrasi Corona
Foto: Ilustrasi Corona
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut angka kematian kasus positif COVID-19 di Indonesia tidak sampai 500 orang. Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengoreksi pernyataan Luhut dengan mengatakan jumlah angka kematian sesungguhnya adalah 4 kali lipat dibanding yang disebut Luhut.

"Dia tidak paham saja. Kalau hanya membaca data pemerintah, memang seakan-akan masalahnya seperti itu. Tapi pada kenyataannya tidak demikian," kata epidemiolog FKM UI, Pandu Riono, kepada wartawan, menanggapi pernyataan Luhut, Rabu (15/4/2020).

Hingga hari ini, data terbaru yang disampaikan Pemerintah RI menyebut ada 469 orang meninggal dari 5.136 kasus positif COVID-19. Namun Pandu mengimbau agar pemerintah sendiri tidak percaya begitu saja dengan data itu, karena banyak kasus yang tidak terlaporkan (underreported).

"Mereka harus kritis dengan data itu, bukan kemudian percaya begitu saja. Yang dilaporkan Jubir adalah data kematian yang sudah terdiagnosis positif. Padahal kita tahu, banyak orang yang dirawat di rumah sakit dengan gejala COVID-19, tapi hasil lab-nya belum keluar hingga orang tersebut meninggal dunia. Mungkin juga sebagian besar tidak sempat dites swab," kata Pandu.

Doktor epidemiologi lulusan University of California Los Angeles ini menjelaskan, tim FKM UI telah membuat permodelan yang memperkirakan angka kematian akibat COVID-19. Permodelan dikerjakan awal April. Hasil perhitungan tim menunjukkan faktor koreksi angka kematian sebesar 4,25. Dengan kata lain, angka kematian sesunguhnya 4,25 kali lipat lebih banyak dari yang diumumkan pemerintah.

"Angka kematian COVID-19 di Indonesia bukan hanya sebesar itu (500 orang meninggal sebagaimana disebut Luhut). Faktor koreksinya sebesar 4,25," kata dia.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2