Di Situasi Pandemi, Jokowi Perlu Larang Mudik Meski Menentang Tradisi

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 14 Apr 2020 14:14 WIB
Presiden Joko Widodo merapikan masker yang digunakannya saat meninjau Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo memastikan Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool/aww.
Foto: Presiden Jokowi saat mengenakan masker, saat darurat virus Corona. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta -

Meski dunia sudah dilanda pandemi virus Corona, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak melarang dua jenis mudik. Pertama, mudik karena alasan ekonomi, dan kedua, mudik karena alasan tradisi. Pakar ilmu kemasyarakatan menilai Jokowi perlu melarang mudik jenis kedua itu.

"Menurut saya, masalah tradisi, dilarang saja. Yang perlu dipikir adalah mudik karena alasan ekonomi. Namun, kalau mudik karena masalah tradisi, potong saja," kata sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Imam Budidarmawan Prasodjo, kepada detikcom, Selasa (14/4/2020).

Aktivitas pulang kampung yang rutin diadakan tiap tahun bisa berbahaya bila tetap dilaksanakan di masa bencana nasional COVID-19 ini. Arus mudik akan meluncur deras dari arah Jakarta ke provinsi-provinsi lainnya, padahal Jakarta adalah episentrum COVID-19. Risiko penularan wabah bisa sangat nyata dan masuk akal. Penyakit dari Ibu Kota bisa tersebar sampai ke desa-desa lewat mudik lebaran.

"Tradisi sungkeman tiap lebaran bisa diatasi. Ini bukan basic need (kebutuhan dasar) yang membuat masyarakat tidak punya pilihan hidup atau mati. Tradisi seperti itu bisa ditunda. Halal bihalal bisa ditunda kalau situasinya seperti sekarang," tutur Imam.

Imam membandingkan penghargaan nilai masyarakat terhadap tradisi dan terhadap agama. Di masyarakat religius, nilai agama dijunjung tinggi. Namun demikian, di situasi yang tak lumrah seperti sekarang, ada keringanan-keringanan yang bisa diambil. Salat Jumat yang seharusnya dilakukan bersama-sama di masjdi bisa diganti dengan salat zuhur di rumah masing-masing orang muslim, misalnya. Untuk nilai tradisi, semestinya juga perlu ada penyesuaian yang bisa diterapkan.

"Ini tinggal kalkulasi kita sebagai bangsa waras. Ini ada marabahaya. Kalau bandel juga secara kolektif (masyarakat tetap mudik karena tradisi), dan kemudian terjadi wabah yang lebih meluas, negara lain mungkin akan menonton ini sebagai kedunguan kolektif," ujar Imam.

Tonton video Jokowi: Ada Kelompok Pemudik yang Tidak Bisa Begitu Saja Kita Larang: