Risiko Karantina Wilayah Menurut Pakar: Corona Gelombang Kedua Muncul

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 10 Apr 2020 11:32 WIB
poster
Gambar ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Bila karantina wilayah diterapkan, angka kematian kasus positif COVID-19 diprediksi bakal rendah. Ternyata strategi untuk menanggulangi virus Corona ini punya risiko. Angka kematian memang bisa ditekan dengan karantina wilayah, namun COVID-19 gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya bakal muncul lagi.

Penjelasan ini adalah salah satu bagian dari hasil permodelan terkait wabah COVID-19 di Indonesia, yang dibuat oleh pakar dari berbagai universitas dan tim SimcovID. Ilmuwan yang terlibat mengerjakan penelitian ini berasal dari ITB, Unpad, UGM, Essex and Khalifa University, University of Southern Denmark, Oxford University, ITS, Universitas Brawijaya, dan Universitas Nusa Cendana.

Peneliti membagi prediksi berdasarkan tiga jenis skenario intervensi sebagai berikut:
1. Tanpa intervensi: Penyebaran virus dibiarkan tanpa penanganan.
2. Mitigasi (mulai 15 Maret 2020): Memperlambat penyebaran. 50% Populasi diam di dalam tempatnya, 50% populasi bisa bepergian.
3. Supresi (jika mulai 12 April 2020): Menekan laju penyebaran. Karantina wilayah. Hanya mengizinkan 10% populasi yang bisa bepergian.

Dalam skenario tanpa intervensi, jumlah kematian akan sangat tinggi, yakni 2,6 juta orang meninggal dunia akibat COVID-19. Indonesia bakal butuh 6 juta ruang perawatan intensif (ICU). Durasi epidemi berlangsung lebih singkat ketimbang jenis intervensi lainnya.

Bila dibiarkan begitu saja, epidemi COVID-19 akan berlangsung 4-5 bulan saja. Karena dibiarkan begitu saja, maka COVID-19 akan menjangkiti banyak orang, diprediksi 55 juta akan kena virus itu. Semakin banyak orang yang terjangkit, bakal semakin banyak korban jiwa, namun semakin banyak pula orang yang kebal terhadap SARS-CoV-2. Kekebalan kelompok (herd immunity) terbentuk. Maka COVID-19 gelombang kedua tak akan datang ke masyarakat kebal ini.

"Terbentuk imunitas kelompok sehingga gelombang kedua tidak terjadi," tulis tim peneliti dalam 'Modelling Update' SimcovID Team, draf diterima detikcom pada Kamis (9/4/2020) dari Nuning Nuraini, peneliti matematika epidemiologi ITB yang ikut serta dalam riset ini.

Pesan Khusus Presiden Jokowi Menghadapi Masa Berat Pandemi Corona:

Selanjutnya
Halaman
1 2 3