Cara Kolonial Belanda Tangani Buruknya Koordinasi Pusat-Daerah Era Wabah

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 19:28 WIB
Foto ilustrasi: Suasana pelabuhan Tanjung Priok di Batavia. Pelabuhan menjadi pintu masuk wabah flu Spanyol, 1918-1920. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)
Foto ilustrasi: Suasana pelabuhan Tanjung Priok di Batavia. Pelabuhan menjadi pintu masuk wabah flu Spanyol, 1918-1920. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)
Jakarta -

Gubernur Jakarta Anies Baswedan menyebut pembatasan interaksi saat darurat COVID-19 bukanlah rumusan baru, karena sudah pernah diterapkan 100 tahun lalu. Saat itu, pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda sedang menghadapi wabah influenza yang merenggut banyak nyawa.

Flu Spanyol, begitulah istilah populernya, mewabah di seluruh dunia pada 1918, 50 juta orang tewas. Wilayah Hindia-Belanda juga kena wabah La Pesadilla (Mimpi Buruk) itu. Diperkiraan ilmuwan, penduduk Pulau Jawa dan Madura yang meninggal akibat virus H1N1 kala itu sekitar 4,26-4,37 juta orang, atau tertinggi ketiga di dunia.

Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda yang berpusat di Batavia kacau balau menanggapi laporan kematian dari sana dan sini.

Catatan mengenai kondisi saat itu telah dibukukan oleh Priyanto Wibowo dkk dalam 'Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda', diterbitkan tahun 2009 atas kerja sama Departemen Sejarah FIB UI, UNICEF Jakarta, Komnas FBPI 2009.

Di masa pagebluk, masyarakat Jawa kala itu mengupayakan keselamatan diri dengan cara mendatangi makam-makam keramat dan menyembelih hewan tertentu sebagai sesaji agar malapetaka berhenti, begitulah mitos yang dipercaya saat itu. Di Rembang, orang-orang mengonsumsi temulawak sebagai jamu supaya terhindar dari influenza. Rumusan Kolonial Belanda saat itu didasari oleh kondisi yang darurat. Berikut adalah kondisi buruknya koordinasi pusat-daerah saat itu:

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2