Menko PMK Muhadjir Effendy Ajak Diskusi Pakar untuk Tangani Corona

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 07 Apr 2020 00:45 WIB
Menko PMK Ajak Diskusi Pakar Permodelan untuk Tangani Corona
Menko PMK Muhadjir Effendy (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengajak para pakar pemodelan untuk berdiskusi tentang penanganan virus Corona (COVID-19). Para pakar pemodelan itu berasal dari sejumlah universitas ternama di Indonesia.

"Tujuan kami mengundang para pakar adalah dalam rangka penguatan penetapan kebijakan terkait penanganan Covid-19. Para pakar kami minta agar dapat secara berkala memberikan update mengenai status-status Covid-19," ujar Muhadjir dalam keterangannya, Senin (6/4/2020).


Dalam diskusi tersebut hadir pakar pemodelan serta tim ahli dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Tim dari Universitas Sebelas Maret (UNS), tim pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat, dan Tim Alumni Matematika UI. Selain itu, ada juga Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Wisnu Widjaja, Seskemenko PMK, Seluruh Deputi dan Staf Ahli Menteri di Kemenko PMK, dan Staf Khusus Menko PMK.

Muhadjir mengatakan beberapa hal mengemuka, bahwasanya jumlah kasus yang terdeteksi saat ini ibarat fenomena gunung es. Artinya, kata dia, hampir dipastikan angka kasus positif COVID-19 jauh lebih besar dibanding yang tercatat hingga kini, bahkan masih akan terus meningkat tajam.


Dia menyebut pemerintah pun mengambil langkah serius, diantaranya dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Menurutnya, kebijakan itu tidak hanya mempertimbangkan faktor kesehatan, namun kondisi sosial ekonomi baik di saat maupun pasca wabah.

"Tidak ada keinginan pemerintah untuk melepas kasus ini. Kami justru berharap dan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi bersatu melawan Covid-19," tegas Menko PMK.


Sementara itu, menurut Pakar Pemodelan serta Tim Ahli dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dr Pandu Riono, menuturkan kebijakan PSBB yang telah ditetapkan pemerintah harus dijalankan secara agresif guna mengantisipasi ledakan kasus. Menurutnya, apabila ledakan kasus terjadi dalam tempo yang sama fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) tidak akan mencukupi.

"Kebijakan yang diambil harus dua langkah di depan virus. PSBB sebaiknya langsung diberlakukan secara nasional," katanya.



Sementara itu, Profesor Sutanto dari Universitas Negeri Solo (UNS) mengkhawatirkan akan terjadi ledakan kasus di daerah ketika musim mudik lebaran mendatang. Kekhawatiran itu disarankan oleh tim pakar lainnya agar senantiasa selalu waspada untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut.

"Batasi pergerakan, waspadai kasus yang tidak dilaporkan, komunikasi terus menerus agar masyarakat aware, namun tetap waspadai dampak terhadap ketahanan pangan," tuturnya.

(fas/fas)