Cegah Corona, Pemkot Parepare Kirim Surat Penutupan Pelabuhan ke Kemenhub

Hasrul Nawir - detikNews
Kamis, 02 Apr 2020 13:39 WIB
Penumpang tiba di Pelabuhan Nusantara, Kota Parepare, Senin (30/3/2020)
Foto: Penumpang tiba di Pelabuhan Nusantara, Kota Parepare, Senin (30/3/2020). (Hasrul Nawir-detikcom)
Jakarta -

Pemerintah Kota (Pemkot) Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) melayangkan surat ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menutup sementara Pelabuhan Nusantara di Kota Parepare agar menanggulangi penyebaran virus Corona (COVID-19). Dalam surat tersebut ada dua opsi yang diusulkan oleh Pemkot Parepare.

"Kita sementara mengajukan ke Kemenhub untuk usulan penutupan pelabuhan. Ada dua opsi yang kami usulkan, yakni, opsi penutupan pelabuhan untuk merapatnya kapal penumpang, dan pembatasan kapal penumpang yang merapat di pelabuhan, selanjutnya kami menunggu tanggapan dari Kemenhub RI," jelas Sekretaris Daerah Kota Parepare, Iwan Asaad saat dihubungi detikcom, Kamis (2/4/2020).

Iwan mengungkapkan, kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk pencegahan wabah virus Corona bagi penumpang dari berbagai daerah di Pelabuhan Nusantara Parepare. Iwan pun menekankan, kebijakan tersebut hanya untuk kapal penumpang, tidak untuk kapal yang membawa barang maupun sembako.

"Kapal angkutan barang dan membawa sembako tetap berjalan, ini hanya untuk kapal penumpang,"terangnya.

Terpisah, Ketua Tenaga Kerja Bongkar Muat ( TKBM) Parepare, Yasser Aslan Tjanring berharap ketika akses bongkar muat barang dan penumpang di pelabuhan antar pulau tersebut akan ditutup, pihaknya berharap sudah ada solusi khususnya terkait ekonomi para buruh.

"Kita sudah lakukan pertemuan, dan tak ada buruh yang keberatan ketika pelabuhan ditutup, sepanjang ada solusi dari pemerintah. Karena 650 anggota TKBM, bergantung dari penghasilan sebagai buruh panggul di pelabuhan," katanya.

Yasser memaparkan, rata-rata buruh bisa menghasilkan upah dari penumpang turun yang barangnya diangkut antara Rp 300-400 ribu per minggu. Itupun tergantung dari jumlah penumpang turun yang menggunakan jasa buruh.

"Dan semua buruh yang tergabung di TKBM, adalah warga Parepare. Ketika mereka harus tinggal di rumah, kita harap pemerintah memikirkan nasib keluarga mereka," ungkapnya.

Yasser menjelaskan, alat pelindung diri (APD) yang digunakan para buruh ketika beraktivitas saat bongkar muat barang dan penumpang pun belum terlalu memadai. Dari TKBM sudah memfasilitasi seluruh buruh dengan masker berbahan kain serta 10 unit tempat cuci tangan.

"Kami juga berharap, ada bantuan sarung tangan, entah itu dari pemerintah atau pihak pelabuhan. Karena kontak dengan penumpang turun, tidak bisa dihindari. Mungkin tangan tidak bersentuhan, tapi buruh tentu harus kontak langsung dengan barang bawaan penumpang," paparnya.

Marak Pemudik, 2 Pelabuhan di Barru Ditutup Sementara:

(rfs/rfs)