Penjajah Belanda Pernah Karantina Wilayah Saat Wabah Pes, Apa Hasilnya?

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 31 Mar 2020 11:52 WIB
Indonesia dalam Pusaran Wabah Corona
Foto Ilustrasi Wabah (detikcom)
Jakarta -

Pemerintah Indonesia sedang membahas tentang perlunya karantina wilayah untuk memutus mata rantai penularan penyakit akibat virus Corona (COVID-19). Pengalaman ini juga pernah diterapkan terhadap kakek-nenek orang Indonesia, di zaman dulu.

Seperti diketahui, karantina wilayah sendiri telah diatur dalam UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Kekarantinaan Kesehatan adalah upaya mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan masyarakat. Namun, untuk saat ini pemerintah pusat belum mengizinkan opsi karantina wilayah ini.


Jika kita menengok ke belakang, negeri ini punya pengalaman soal karantina wilayah, yakni pada zaman penjajahan Belanda dulu. Tepatnya, saat wabah pes menyebar di Jawa pada 1911 hingga 1916.

Peristiwa ini pernah dicatat oleh alumnus jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI), Syefri Luwis dalam skripsinya yang berjudul 'Pemberantasan Penyakit Pes di Malang, 1911-1916 (2008)'. Syefri menjelaskan, mulanya pes ini pernah merenggut nyawa dua orang di Deli, Pantai Timur Sumatera pada 1905. Namun, ketika itu belum menjadi wabah, karena yang meninggal baru dua orang.

Penyebab penyakit pes adalah basil yang bernama Pasteurella pestis atau kadang juga dikenal dengan nama Yersinia pestis. Umumnya basil ini ada pada kutu atau ginjal dari tikus dan hewan pengerat lainnya.


Namun, pemerintah Hindia Belanda tak acuh dengan pengalaman pes ini. Pemerintah kolonial tetap mengimpor beras dari Yangon, Myanmar. Tak disangka, ternyata ada kutu tikus yang bersembunyi dalam beras-beras itu. Menurut penelitiannya itu, pes ini akhirnya mulai mewabah di Jawa, tepatnya di Malang sekitar 1911.

"Laporan sebenarnya 1910, dihitung dari impor beras dari Yangon itu. Tapi kalau yang tercatat ada yang meninggal itu 1911," kata Syefri saat dihubungi detikcom, Selasa (31/3/2020).

Selanjutnya
Halaman
1 2 3