Sebelum COVID-19, Ini 8 Wabah yang Sempat Terjadi pada Masyarakat Islam

Rosmha Widiyani - detikNews
Senin, 30 Mar 2020 15:25 WIB
Muslim ibadah
Foto: Getty Images/Image Source/Sebelum COVID-19, Ini 8 Wabah yang Sempat Terjadi pada Masyarakat Islam
Jakarta -

Wabah penyakit juga pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat. Kala itu banyak masyarakat yang juga menjadi korban meninggal dunia.

Sebelum COVID-19, masyarakat muslim sempat merasakan beratnya menghadapi wabah penyakit. Meski merugikan, muslim banyak belajar dari wabah sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup mereka.

Dikutip dari Was the Plague Disease a Motivating or an Inhibiting Factor in the Early Muslim Community? dari Kepala International Society for History of Islamic Medicine (ISHIM) Abdul Nasser Kaadan MD, PhD dan pengajar di Health Institute of Aleppo Mahmud Angrini MD, berikut 8 wabah yang sempat terjadi pada muslim,

1. Plague of Shirawayh

Wabah ini dipertimbangkan sebagai kejadian epidemik pertama yang terjadi pada masyarakat muslim. Plague of Shirawayh terjadi pada 627-628 M di ibukota Persia. Nama wabah diperoleh dari Siroes, Raja Persia dari Dinasti Sassanian yang meninggal karena penyakit ini pada 629 M. Dalam kitab Tarikh al-Omam wal-Muluk dari Muhammad Al-Tabari dikatakan, wabah ini membunuh banyak warga Persia meski tidak ada pasti jumlah muslim yang meninggal. Bukti dan jejak terkait wabah ini sangat jarang, namun masyarakat Semenanjung Arab kemungkinan bisa melewati wabah ini.

2. Plague of Amwas

Sesuai namanya, Plague of Amwas awalnya menyerang sebuah desa kecil bernama Amwas yang terletak di Palestina atara Jerusalem dan Al-Ramlah. Wabah ini menyerang tentara Arab yang sedang berada di Amwas pada bulan Muharram dan Safar pada 638 dan 639 M. Plague of Amwas kemungkinan adalah bubonic plague berdasarkan catatan Jacob of Edessa.

Sebanyak 2.500 orang meninggal termasuk orang-orang dekat Rasullah SAW yaitu Abu Ubaidah, Yazid bin Abu Sufyan, Muaz bin Jabal dan puteranya Shurahbil din Hasanah, Al-Fadl bin Al-Abbas, Abu Malik Al-Ashari, Al-Hareth bin Hisham, Abu Jandal, Uwais Al-Qarni, serta Suhail bin Amr. Mengutip Al-Tabari, musuh Islam sempat mempertimbangkan penaklukan karena serangan wabah yang melemahkan kekuatan dan membuat panik.

Sebelum wabah sempat terjadi kelaparan parah, hingga tahun ini disebut Al-Ramadah. Di wilayah Suriah dan Palestina, banyak masyarakatnya yang terserang penyakit ini. Banyaknya serangan wabah dipengaruhi rendahnya daya tahan tubuh dan tikus yang terinfeksi bakteri penyebab penyakit. Tikus ini menyerang persediaan pangan dan bersarang dekat sumber air warga.

3. Plague of Kufah

Wabah ini terjadi di Kufah pada 669 M di masa khalifah Muawiyah dari Bani Umayyah. Gubernur setempat Al-Mughirah bin Shubah dilaporkan keluar dari wilayahnya saat terjadi serangan wabah. Dia baru kembali saat serangan mulai reda dan meninggal karena penyakit tersebut pada 670 M. Serangan wabah bertepatan dengan kedatangan tentara Arab ke pesisir Asia melalui Bosphorus pada 668 M. Namun udara dingin, minim baju hangat, dan minimnya sarana lain mengakibatkan mereka terserang wabah serta disentri yang menghancurkan camp.

4. Plague of Al-Jarif (the violent plague)

Jenis wabah ini menyapu Irak selatan lewat Basar seperti banjir kira-kira tahun 688-689 M. Dalam tiga hari sebanyak 70000, 71000, dan 73000 orang telah meninggal pada April 689 M. Kebanyakan korban meninggal pada harus keempat setelah terinfeksi. Masyarakat dan pemerintah kesulitan menguburkan jenazah, sehingga harus mencegah mayat jangan sampai dimangsa hewan buas.

Jenazah akhirnya dikumpulkan dalam satu tempat tertutup dan dikunci, yang diharapkan mencegah kedatangan binatang liar. Tidak ada data pasti asal dan tanggal serangan, yang kemungkinan diakibatkan wabah yang muncul beberapa kali. Penulis John bar Penkaye menyatakan wabah ini menjadi kejadian paling parah yang pernah dilihat selama hidup. Saking parahnya, penduduk di wilayah Irak utara keluar dari rumahnya demi berlindung dari wabah. Sayangnya, penduduk tersebut justru menjadi korban perampokan dan mengundang niat jahat lain. John ber Penkaye berharap tak perlu lagi melihat wabah serupa Plague of Al-Jarif.

5. Plague of Fatayat

Plague of al-Fatayat terjadi di Basrah, Kufah, Waset, dan Damaskus pada 706M. Diberi nama plague of fatayat karena kebanyakan korban yang meninggal adalah pelayan perempuan dan wanita muda. Tingginya angka kematian mengindikasikan wabah kemungkinan besar adalah bubonic plague.

6. Plague of Al-Ashraf

Sesuai namanya, korban wabah plague of Al-Ashraf kebanyakan adalah laki-laki dari kalangan bangsawan. Wabah terjadi di Irak dan Suriah pada 716 M selama pemerintahan Al-Hajjaj, gubernur Irak dari Bani Umayyah yang terkenal. Putera mahkota Sulaiman bin Abd Al-Malik dikabarkan meninggal karena wabah ini.

7. Plague of 743-744 M

Wabah ini dilaporkan membunuh 100 ribu orang di wilayah Mesopotamia dan 20 ribu jiwa tiap hari selama satu bulan di wilayah Bosrah dan Hawran. Wabah yang ternyata bubonic plague ini menyerang bersamaan dengan kelaparan seperti dijelaskan dalam Zuqnin Chronicle. Serangan wabah ditandai bengkak, sakit, dan luka pada kebanyakan kepala keluarga. Sayangnya karena wabah menyerang saat musim dingin, mayat tidak bisa dikuburkan sehingga dibuang di tempat umum.

Akibatnya mereka yang hidup berisiko terkontaminasi jenazah yang mulai membusuk dan kelaparan. Mereka yang punya makanan ternyata tidak bernasib lebih baik. Stok makanan mereka dimangsa tikus yang membawa wabah ini dan berdampak buruk pada manusia.

8. Plague of Salam

Serangan wabah terjadi di Basrah pada 750 M dan Damaskus pada 754 M. Serangan paling parah terjadi saat Ramadhan dengan tingkat kematian seribu per hari. Sekitar 70 ribu orang mati di hari pertama serangan dan jumlah yang sama meninggal di hari kedua.

Umar bin Khattab Menghadapi Wabah Penyakit

Plague of Aswam menghadirkan cerita kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab saat menghadapi serangan wabah. Sikap Umar menginspirasi upaya pencegahan akibat infeksi wabah penyakit di kehidupan sekarang. Umar sempat dianggap melarikan diri dari takdir Allah SWT.

"Kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya," jawab Umar bin Khattab saat ditanya Abu Ubaidah terkait kemungkinan melarikan diri dari takdir Tuhan.

Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah sempat berselisih karena khalifah ingin membawa pulang pasukannya ke Madinah. Sedangkan Abu Ubaidah ingin tetap berada di Syam yang terserang wabah. Dia kemudian terkena wabah dan meninggal dunia. Muaz bin Jabal yang menggantikan Abu Ubaidah sebagai Gubernur Syam juga meninggal dunia terkena wabah.

Sikap Umar didasarkan hadist yang menjelaskan sikap Rasulullah SAW saat mendengar ada wilayah terserang wabah.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).

Wabah mengajarkan muslim untuk mengkaji lebih dalam sikap dan perkataan Rasulullah SAW saat menghadapi wabah. Tuntunan tersebut berjalan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga masyarakat muslim mampu memperbaiki derajat kesehatan dan kehidupannya. Penerapan ilmu pengetahuan dan prinsip agama yang sejalan memungkinkan muslim menjadi kelompok yang sangat kooperatif dalam mencegah penularan penyakit.

(row/erd)