Embargo Dicabut, Kopassus Ingin Latihan Bersama AS
Jumat, 09 Des 2005 16:23 WIB
Yogyakarta - Pasca dicabutnya embargo senjata oleh Amerika Serikat (AS), Komando Pasukan Khusus (Kopassus) membutuhkan persenjataan yang lebih canggih dari sekarang. Maka itu Kopassus meminta beberapa persenjataan yang dimiliki saat ini perlu diperbarui.Hal itu disampaikan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), Mayjen TNI Syaiful Rizal kepada wartawan seusai upacara penutupan Gladi Lapangan Tri Buwana Sakti XI 2005 di Pantai Sundak Kecamatan Tanjungsari Gunungkidul, Jumat (9/12/2005).Selain butuh alat-alat yang baru, Kopassus juga ingin ada latihan bersama pasukan khusus negara lain. Menurut Syaiful, latihan bersama pasukan khusus dengan negara seperti Singapura dan Thailand sudah sering dilakukan. Pada bulan Februari tahun 2005, khusus unit antiteror Kopassus direncakan akan mengadakan latihan bersama dengan tentara Australia di Australia. "Kita akan latihan ke sana, tapi dengan Amerika belum, mudah-mudahan setelah ini (embargo dicabut) kita bisa latihan bersama," tegas Syaiful. Syaiful mengatakan dengan dicabutnya embargo senjata oleh Amerika Serikat (AS) sedikit banyak melegakan TNI AD terutama Kopassus yang telah menjalin hubungan kerjasama sejak tahun 1980-an. Setelah dicabut embargo tersebut, dirinya berharap Panglima TNI bisa membeli peralatan yang lebih baru. "Mudah-mudahan Panglima TNI bisa memberikan alat-alat yang baru, karena saya sudah punya program dan sudah saya sampaikan kepada KSAD mengenai alat-alat yang perlu diperbarui. Semua saya kira sudah dalam tahap negosiasi, tinggal menunggu saja," katanya.Menurut dia, beberapa peralatan Kopassus yang perlu diperbarui di antaranya alat NVG (Night Vision Google). Sebab NVG yang ada sekarang ini sudah generasi ketiga. Sedangkan NVG yang dimiliki adalah NVG generasi satu dan kedua. "Paling tidak kita juga punya NVG generasi ketiga dan kita juga perlu alat-alat lain yang kecil-kecil tapi harganya mahal," katanya.Beberapa alat lain yang perlu diperbarui adalah peralatan selam yang dibutuhkan oleh pasukan katak (Paska) Kopassus. Alat-alat itu dibutuhkan biladigunakan untuk membebaskan sandera di kapal dengan cara mendekati musuh lewat bawah air. Demikian pula dengan payung free fall yang telah dipakai cukup lama sehingga perlu diperbarui lagi. "Kita juga sudah ajukan payung free fall yan baru. Kopassus itu membutuhkan alat yang kecil-kecil tapi canggih," ujar Syaiful.Ketika ditanya negara mana yang bakal menjadi pilihan untuk membeli senjata, Syaiful mengatakan untuk senjata khusus untuk antiteror diperlukan senjata jenis MP 5, sedang Kopassus sudah memiliki jenis SD 3. "Jenis MP 5 itu dan senjata kecil lainnya itu sudah didesain sedemikian rupa sehingga tahan lama," katanya.Selain itu kata Syaiful, Kopassus juga ingin memiliki senjata Parako yang lebih bagus dibandingkan jenis SS 1. Namun karena sempat diembargo maka tentarakesulitan untuk mendapatkannya. Senjata buatan dalam negeri PT Pindad jenis SS 2 yang dilengkapi teleskop itu ternyata lebih baik. "Hal itu dapat kita tunjukkan saat mengikuti kejuaraan menembak di Bisan Brunei mampu mendapat nomor satu. Padahal selama ini tidak pernah menang," kata Syaiful bangga.
(iy/)











































