Round-Up

Kisah Miris Perawat Pasien Corona Diusir dari Kosan

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 25 Mar 2020 08:59 WIB
RS Andi Makkasau, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu RS rujukan corona. Begini potret kerja tim penanganan Covid-19 di RSUD Andi Makkasau.
Foto: Tenaga medis di Parepare Sulsel (Hasrul Nawir-detikcom)

Menyikapi masalah ini, Harif mendorong pihak manajemen rumah-rumah sakit rujukan pasien Corona untuk menyediakan rumah singgah bagi tenaga medisnya.

"Kami mendorong ini saja, perawat-perawat itu kan berada pada pekerjaan, bekerja dan tanggung jawab institusi masing-masing ya. Ini kan dalam rangka pelaksanaan tugasnya melayani masyarakat. Saya kira kita mendorong agar, yang kami harapkan, mulai diantisipasi dengan adanya rumah-rumah singgah yang harus disediakan bilamana eskalasi kasus ini meningkat," ungkap dia.

Lagipula, lanjut Harif, petugas medis dalam situasi seperti ini, jarang kembali ke tempat tinggal. Jadi rumah singgah dinilai menjadi solusi untuk mereka melepas lelah.

"Kan mereka kan juga pulang mungkin tidak terlalu sering, harus tinggal beberapa hari di rumah sakit. Sebenarnya kan protap (prosedur tetap)-nya seperti Wisma Atlet (RS Darurat Corona), (tenaga medis) 14 hari bertugas, 14 hari diistirahatkan, tapi di tempat yang disediakan. Tetapi rumah sakit (rujukan pasien Corona) yang sekarang ada itu kan tidak menyediakan tempat semacam mes, jadi mereka kan pulang. Jadi perlu disediakan tempat oleh manajemennya," jelas Harif.

Harif menilai kesiapsiagaan dan kesehatan petugas medis adalah hal yang penting. Untuk itu, manajemen rumah sakit harus juga menjalankan protap 14 hari kerja dan 14 hari istirahat untuk tenaga medisnya.

"Kalau sistem di Wisma Atlet itu kalau saya lihat dalam 28 hari kerja, 14 hari kerja, 14 istirahat. Itu penting saya kira kalau kita mau jaga kesiapsiagaan, kesehatan para petugas medis di situ. 14 Hari kerja, 14 hari masuk itu kan sesuai protap pedoman nasional. Cuma masalahnya kalau itu dilakukan, siapa lagi (tenaga medis) yang ada. Ada plus-minusnya," terang Harif.

Arief menyampaikan bila orang yang pernah berinteraksi langsung dengan pasien positif Corona saja diisolasi untuk 14 hari, apalagi perawat yang kesehariannya mengurusi pasien Corona. Karena itu mereka juga berhak mendapat kesempatan istirahat bekerja selama 14 hari.

"Orang kalau habis bersinggungan sama pasien positif COVID-19 kan dia diobservasi 14 hari. Sementara tenaga medis itu langsung dia di sana. Itu antisipasi ke depan agar petugas medis tidak kelelahan, agar melindungi dirinya juga dari COVID itu sendiri," tandas Harif.

Halaman

(aud/aud)