Persatuan Perawat Sesalkan Perawat Pasien Corona Diusir dari Kosan

Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 24 Mar 2020 16:50 WIB
Petugas memindahkan mobil ambulans di samping ruang isolasi RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (5/3/2020). Kementerian Kesehatan menyatakan hingga Kamis 5 Maret ini ada 156 pasien dalam pengawasan virus corona yang tersebar di 35 rumah sakit di 23 provinsi, 2 diantaranya merupakan pasien positif corona yang masih dirawat di RSPI Prof Dr Sulianti Saroso. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.
Tim Medis RSPI Sulianti Saroso (Sigid Kurniawan/Antara Foto)
Jakarta -

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia Harif Fadhilah menyesalkan adanya perawat yang mendapat stigma pembawa virus di lingkungan tempat tinggalnya. Harif memahami masyarakat takut tertular virus Corona (COVID-19), namun dia menilai masyarakat perlu diberi pemahaman penularan virus Corona terjadi melalui percikan air liur, bukan udara, sehingga physical distancing cukup dapat mencegah.

"Kecewa dan menyayangkan. Tentu harus terus kita edukasi bahwa paparan COVID-19 ini kan pada droplet, bukan dari udara, tapi percikan. Selama kita bisa lakukan physical distancing, itu salah satu pencegahannya. Kalau itu bisa dilakukan di kosan, kenapa harus takut," tutur Harif kepada detikcom, Selasa (24/3/2020).

Harif mendorong pihak manajemen rumah sakit-rumah sakit rujukan pasien Corona (COVID-19) untuk menyediakan rumah singgah bagi tenaga medisnya. Selain untuk menghindari tim medis menjadi korban stigma, rumah singgah dinilai bisa jadi solusi saat terjadi eskalasi kasus pasien Corona.

"Kami mendorong ini saja, perawat-perawat itu kan berada pada pekerjaan, bekerja dan tanggung jawab institusinya masing-masing ya. Ini kan dalam rangka pelaksanaan tugasnya melayani masyarakat. Saya kira kita mendorong agar, yang kami harapkan, mulai diantisipasi dengan adanya rumah-rumah singgah yang harus disediakan bilamana eskalasi kasus ini meningkat," ujar dia.

Harif mengatakan, dalam situasi wabah, tenaga medis jarang kembali ke tempat tinggal karena harus melayani pasien. Namun saat ini tak ada juga fasilitas rumah singgah dari pihak rumah sakit untuk mereka melepas lelah.

"Kan mereka kan juga pulang mungkin tidak terlalu sering, harus tinggal beberapa hari di rumah sakit. Sebenarnya kan protap (prosedur tetap)-nya seperti Wisma Atlet (RS Darurat Corona), (tenaga medis) 14 hari bertugas, 14 hari diistirahatkan, tapi di tempat yang disediakan. Tetapi rumah sakit (rujukan pasien Corona) yang sekarang ada itu kan tidak menyediakan tempat semacam mess, jadi mereka kan pulang. Jadi perlu disediakan tempat oleh manajemennya," jelas dia.

Jokowi ke Menkes: Tetapkan Jaminan Kesehatan Pasien Corona:

Selanjutnya
Halaman
1 2