Round-Up

Jeritan Penumpang TransJakarta, Antre Panjang Bikin Khawatir Tertular Corona

Tim detikcom - detikNews
Senin, 16 Mar 2020 21:02 WIB
Sejumlah Bus Transjakarta antri untuk mengangkut penumpang di Halte Transjakarta Harmoni, Senin (17/10/2016). Pemprov DKI Jakarta dan PT TransJakarta berencana menambah armada bus.
Bus TransJakarta (Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta -

Kebijakan pembatasan operasional TransJakarta hari ini bikin penumpang menjerit. Di hari pertama kebijakan itu, antrean panjang penumpang TransJakarta terjadi di beberapa stasiun. Penumpang khawatir karena kerumunan orang berisiko penularan virus Corona.

Pagi tadi, antrean penumpang parah terjadi di Halte TransJakarta Ragunan, Jakarta Selatan, pagi ini, Senin (16/3). Antrean terjadi setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengurangi rute dan jam operasi.

Antrean terjadi sampai 20-30 meter. Setiap calon penumpang menjalani pengecekan suhu tubuh dengan thermo gun. Antrean untuk masuk ke halte dibuat menjadi dua. Tujuannya, membuat lebih tertib.

Jumlah bus yang beroperasi pun hanya 25 unit. Saat memasuki halte, petugas terlebih dahulu mengecek suhu tubuh penumpang. Yang bersuhu lebih dari 38 derajat tidak diizinkan masuk.

Salah satu penumpang, Lia mengatakan kebijakan untuk mengurangi rute TransJakarta perlu dikaji ulang. Terlebih, masih banyak perusahaan yang mengharuskan untuk karyawannya datang ke kantor.

Penumpang lainnya, Tania, juga mengeluhkan panjangnya antrean. Menurutnya, kebijakan pengurangan rute tidaklah efektif.

Senada dengan penumpang sebelumnya, Rika menganggap kebijakan pengurangan rute ini tidak efektif. Dengan padatnya antrean, kata Rika, potensi penyebaran virus Corona lebih besar.

"(Pengurangan rute tujuannya) untuk mengurangi virus yang numpuk, (antre seperti) ini numpuk virus sih," kata Rika dengan nada sedikit kesal.

Menurutnya, apabila pemerintah ingin mengurangi pembatasan transportasi publik, sebaiknya semua perkantoran, baik swasta maupun pemerintah, karyawannya bekerja di rumah. Hal itu agar tidak terjadi penumpukan antrean di tempat keberangkatan transportasi publik.

"Kecuali memang kantornya membuat peraturan yang jelas kita tuh semuanya di rumah nggak menggunakan transportasi publik nggak apa-apa sih atau pemerintah dengan tegas menyatakan PNS, swasta benar-benar di rumah biar nggak gunakan transportasi ini," katanya.

Sementara itu, Pegi berharap rute TransJakarta kembali beroperasi normal agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Sebab, kata dia, semua perusahaan saat ini belum menerapkan kebijakan bekerja di rumah.

"Semoga rute Transjakarta dikembalikan normal aja sih, karena kan belum semua kantor yang libur," kata Pegi.

Selain di Ragunan, di Halte TransJakarta Puri Beta 2 Ciledug juga ada antrean panjang. Bahkan antrean itu sampai viral di media sosial. Seorang penumpang, Yasmin, mengatakan hanya satu rute yang dilayani di halte tersebut.

"Puri Beta 2, yang dibuka cuma satu rute, Ciledug-Blok M," ujar Yasmin saat dihubungi.

Yasmin mengaku harus menunggu sekitar 30 menit lebih. Dia mengatakan antrean itu mengular panjang. Penumpang yang naik pun dibatasi.

Sementara itu, di Halte Bus TransJakarta UKI, Cawang, Jakarta Timur, antre panjang menyebabkan beberapa penumpang juga terlibat cekcok mulut karena saling serobot antrean menjelang loket penjualan tiket di pintu masuk.

"Tolong tertib dan antre, jangan ada yang dorong-dorongan," kata salah satu petugas TransJakarta.

Petugas pun membatasi calon penumpang yang akan masuk ke area halte melalui sistem buka-tutup. Akibatnya, terjadi antrean dari pintu masuk halte hingga koridor jembatan pejalan kaki.

Kebijakan Pemprov DKI lantas disorot Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia ingin transportasi publik tetap beroperasi meski wabah virus Corona melanda.

Jokowi meminta pemerintah pusat dan daerah tetap menyediakan angkutan massal dengan sejumlah catatan. Transportasi publik yang dimaksud mulai dari kereta api hingga MRT. Jokowi ingin tingkat kerumunan hingga antrean bisa diantisipasi.

"Baik itu kereta api, bus kota, MRT, LRT bus Trans, yang penting bisa mengurangi tingkat kerumunan, mengurangi antrean, dan mengurangi tingkat kepadatan orang di dalam moda transportasi tersebut sehingga kita bisa menjaga jarak satu dengan lainnya," kata Jokowi dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/3/2020).

Sorotan Jokowi kemudian direspons Anies sebagai orang nomor 1 di DKI. Anies dalam jumpa persnya mengumumkan kendaraan umum yang semula dibatasi dikembalikan dengan frekuensi tinggi. Namun jumlah penumpang tetap dibatasi.

"Sesuai arahan Presiden terkait penyelenggaraan kendaraan umum massal untuk masyarakat, maka kami kembali menyelenggarakan dengan frekuensi tinggi untuk penyelenggaraan kendaraan umum di Jakarta," kata Anies di Balai Kota, Jakarta.

Anies mengatakan Pemprov DKI tetap melakukan social distancing atau pencegahan penularan virus Corona dengan hati-hati. Salah satu opsinya, kata Anies, adalah membatasi jumlah antrean di dalam halte dan di dalam stasiun.

"Akan ada pembatasan jumlah penumpang per bus dan per gerbong di setiap kendaraan yang beroperasi di bawah Pemprov DKI. Juga ada pembatasan jumlah antrean di dalam halte dan antrean di dalam stasiun," ujarnya.

Anies menyebut, dari hasil diskusi dengan para ahli, antrean di luar ruangan mengurangi tingkat risiko penularan virus dibanding di dalam ruang. Untuk itu, akan ada pembatasan penumpang dan jumlah antrean.

"Sekali lagi, tujuannya untuk kurangi risiko penularan. Ini semua punya konsekuensi bahwa antrean akan lebih banyak di luar halte dan stasiun, antrean di ruang terbuka, dari diskusi dengan ahli, mengurangi tingkat risiko penularan, daripada antrean dan kepadatan di ruang tertutup. Karena itu, pembatasan jumlah penumpang per gerbong dan per bus menjadi penting untuk memastikan bahwa jarak fisik antara penumpang dengan penumpang lain baik saat menuju maupun selama dalam kendaraan umum tetap terjaga," kata Anies.

(idn/idn)