Nelayan di Bone Ribut Gegara Jaring Rusak Kena Pukat, Polisi Turun Tangan

Hermawan Mappiwali - detikNews
Kamis, 12 Mar 2020 23:21 WIB
Ratusan nelayan di Bone, Sulsel, terlibat keributan. Polres Bone turun tangan (dok. Istimewa)
Ratusan nelayan di Bone, Sulsel, terlibat keributan. Polres Bone turun tangan. (dok. Istimewa)
Bone -

Ratusan nelayan di Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), terlibat keributan. Keributan dipicu kelompok nelayan pengguna alat tangkap tradisional mencari kelompok nelayan pengguna pukat trawl.

Keributan bermula saat ada nelayan yang jaring ikan miliknya rusak akibat tersangkut pukat trawl milik nelayan lainnya di perairan sekitar wilayah Lamurukung, Tellusiatinge, Bone. Alhasil, sekitar pukul 14.00 Wita, para nelayan dengan alat tradisional berusaha mencari nelayan pemilik pukat tersebut.

"Akibat dari adanya kejadian tadi siang di mana salah satu nelayan yang memakai jaring dirusak atau terseret oleh pukat trawl, sehingga warga menjadi marah dan berupaya untuk mencari sendiri nelayan-nelayan yang menggunakan pukat trawl," ujar Kasat Intel Polres Bone AKP Surahman kepada detikcom, Kamis (12/3/2020) malam.

Nelayan di Bone Ribut Gegara Jaring Rusak Kena Pukat,, Polisi Turun TanganKeributan dipicu jaring nelayan tradisional rusak terkena pukat trawl. (dok. Istimewa)

Dia menjelaskan para nelayan pengguna alat tangkap tradisional pada intinya menuntut penggunaan pukat trawl dihentikan dengan cara penegakan hukum kepada nelayan yang melanggar.

"Untuk menghindari konflik fisik atau upaya main hakim sendiri oleh nelayan tradisional, sehingga gabungan personel dari Polres Bone turun ke lokasi dan menenangkan warga yang telah emosi dan diajak duduk bersama di salah satu rumah warga," katanya.

Surahman menjelaskan para nelayan dengan alat tradisional itu dapat ditenangkan petugas dan pemerintah setempat.

Nelayan di Bone Ribut Gegara Jaring Rusak Kena Pukat,, Polisi Turun TanganPara nelayan musyawarah di salah satu rumah warga terkait keributan yang terjadi. (dok. Istimewa)

"Tadi memang jumlahnya banyak mencapai seratusan warga. Tadi ramemai sekali karena juga posisi kampung tersebut memang perkampungan yang sangat padat penduduknya," ujar Surahman.

"Tapi kalau disebut demo sepertinya tidak ada, mereka hanya berkumpul di rumah yang saya tempati diskusi tadi," katanya.

(jbr/jbr)