Disdik Sulsel Usut Tuntutan Siswa yang Demo Kepsek di Luwu Utara

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Rabu, 11 Mar 2020 18:58 WIB
Siswa SMA di Luwu Utara tuntut kepsek mundur karena dianggap tak mampu kelola uang komite (Instagram @palopo_info)
Foto: Siswa SMA di Luwu Utara tuntut kepsek mundur karena dianggap tak mampu kelola uang komite (Instagram @palopo_info)
Makassar -

Dinas Pendidikan (Disdik) Sulawesi Selatan (Sulsel) mengusut tuntutan siswa SMA 9 Mappedeceng, Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang meminta kepala sekolahnya dicopot. Siswa menilai kepala sekolah tidak mampu mengurus dana komite sekolah.

"Tadi saya sudah perintahkan cabang dinas di sana untuk mencari tahu penyebab dan fakta-fakta yang dilakukan kepala sekolah. Jadi sudah ditangani cabang dinasnya, dan saya minta paling lambat Jumat laporannya sudah ada di saya," ujar Plt Kepala Disdik Sulsel Basri kepada detikcom, Rabu (11/3/2020).

Basri telah memerintahkan cabang dinasnya di Luwu Utara untuk melakukan dialog dengan para guru, siswa, dan orang tua siswa terkait tuntutan siswa yang berunjukrasa hari ini. Basri mengatakan pihaknya butuh informasi yang berimbang dari guru hingga orang tua siswa terkait tuntutan siswa yang menyebut kepala sekolah tidak mampu mengurus dana komite sekolah.

"Saya juga perintahkan cabang dinas tadi untuk menanyakan kepala sekolah apa yang disuarakan oleh siswa yang unjuk rasa, itu apa saja tuntutannya. Benar atau tidak (tuntutannya)," katanya.

Basri menegaskan akan memberi sanksi kepada kepala sekolah jika ditemukan masalah dalam pengelolaan dana komite sekolah. Sanksi dapat berupa pencopotan, namun tergantung dari pelanggaran yang dilakukan.

"Tergantung tingkat pelanggarannya. Makanya kita minta cabang dinas untuk mempelajari, menelaah, dan mendapatkan semua informasi, semua unsur," imbuhnya.

Tidak saja dana komite sekolah, Disdik Sulsel juga akan mengusut tuntutan siswa terkait fasilitas sekolah yang sudah tidak layak.

"Pokoknya semuanya (diusut), uang komite, uang BOS, nah itu semua (diselidiki). Itu kan suaranya siswa, nah kita mau tahu juga suaranya guru. Kan guru dia pelaku bersama dengan kepala sekolah. Nah kemudian kita minta tanggapan komite, kan semua sekolah ada komitenya, orang tua siswa seperti apa," imbuhnya.

"Karena kadang juga ada kegiatan begitu, misalnya siswa unjuk rasa, kadang juga ada persoalan internal. Kadang tidak murni, tapi sekali lagi saya sudah perintahkan cabang dinas untuk mencari tahu, dan segera membuat laporan tertulis," lanjutnya.

Selama masa penyelidikan oleh tim dari Disdik Sulsel, Basri meminta siswa tetap tenang dan mengikuti proses belajar dengan tertib.

"Biarkan dulu cabang dinas saya bekerja, kemudian siswa belajar seperti biasa. Karena ini kan menjelang ujian nasional, kita berharap bahwa di sekolah itu dalam keadaan kondusif. Jadi kalau pun ada tuntutan begitu, saya tidak menutup mata, saya melihat dan mendengar. Kalau memang kepala sekolahnya membuat kesalahan kita beri sanksi," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Sekitar 250 orang siswa SMA 9 Mappedeceng, Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), melakukan unjuk rasa di sekolahnya. Mereka menuntut kepala sekolah yang bernama Herianto dicopot dari jabatannya karena dianggap tak bisa mengurus uang komite sekolah dengan baik.

Unjuk rasa dimulai sekitar pukul 12.00 Wita di halaman sekolah SMA 9 Mappedeceng, Desa Cendana Putih, Mappedeceng, Luwu Utara. Para siswa mendemo kepala sekolah lantaran menganggap uang komite yang telah mereka setorkan selama ini tak jelas peruntukannya.

"Iya benar, ada unjuk rasa tadi memang di SMA 9 Mappadeceng. Mereka mendemo kepala sekolah sehubungan dengan uang komite," ujar Kapolres Luwu Utara AKBP Agung Danargito kepada wartawan, Rabu (11/3).

(nvl/jbr)