DPRD Surabaya Desak Percepatan Layanan PDAM

Mega Putra Ratya - detikNews
Selasa, 10 Mar 2020 12:49 WIB
DPRD Kota Surabaya
Foto: Dok DPRD Surabaya
Jakarta -

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Laila Mufidah tak bisa menahan niatnya untuk memastikan semua warga Surabaya tak lagi krisis air. Empat hari, sebagian besar wilayah Surabaya Timur tak teraliri air karena jaringan pipa PDAM Surabaya bermasalah.

Kondisi tersebut karena jaringan pipa PDAM berukuran besar patah saat ada proyek perluasan Masjid di kawasan Purimas, Gununganyar.

"Seharusnya pihak pelaku proyek koordinasi dengan PDAM sebelum pemasangan tiang pancang. Saya mencatat tiga kali proyek di kota ini berdampak pada layana PDAM. Masyarakat yang dirugikan," kata Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah, Senin (9/3/2020).

Politisi perempuan PKB ini pun memastikan lokasi proyek yang menjadi pangkal masalah krisis air selama tiga hari kemarin. Dia pun sidak ke lokasi untuk memastikan perbaikan pipa di Purimas Gununganyar.

Dua alat berat masih disiapkan untuk finishing perbaikan pipa. Jaringan air ini pecah saat terkena pemancangan bangunan masjid. Diperlukan waktu tiga hari mengatasi masalah ini. Hingga Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini turun tangan ke lokasi.

Begitu tahu kalau sudah ada perbaikan, Laila pun harus memastikan kondisi perbaikan apakah sudah tuntas betul. Mengingat air adalah kebutuhan vital warga Surabaya. Tidak saja untuk mandi tapi juga untuk kebutuhan rumah tangga.

Laila pun ikut menjadi sasaran keluhan warga saat air PDAM mampet. Air yang dinantikan Berhari-hari tak kunjung mengalir di instalasi air PDAM di tempat tinggal mereka.

Menurut Laila, air merupakan kebutuhan vital di daerah perkotaan yang mengandalkan PDAM. "Warga banyak mengadu ke saya, baik dari perorangan hingga instansi pendidikan. Pasokan air untuk mandi, cuci, dan wudhu habis," cerita Laila.

Dalam kondisi seperti itu, Laila menyayangkan respons PDAM yang tidak membuat suasana meneyejukkan. Jawaban normatif dan menjanjikan dalam sehari tuntas. Nyatanya tidak.

Banyak warga yang kesal karena Hotline atau telepon yang disediakan selama ini ternyata tak bisa dihubungi. Di medsos, PDAM menjanjikan menuntaskan kerusakan pipa di Purimas. Nyatanya sampai tiga hari baru bisa diatasi Setalah Wali Kota Risma turun tangan.

Laila mencatat dua kejadian besar sehingga bikin PDAM mampet. Saat jalan Gubeng Ambles dan pengerjaan proyek Basement Jl Yos Yudarso juga mematahkan pipa besar PDAM.

"Biar tidak terulang kejadian yang sama dan merepotkan warga, utilitas dan jaringan pipa PDAM harus sudah diketahui titiknya sebelum proyek dikerjakan. Harus ada koordinasi pengembang dan pemkot," kata Laila.

Sekolah Jadi Pesing

Dampak paling terasa hingga Senin (9/3/2020) adalah fasilitas umum. Hingga Senin dampak mampetnya PDAM belum tuntas. Akibatnya SD Al Ikhlas Semampir airnya masih mampet. Sekolah ini pun pesing.

Laila pun menyempatkan diri meninjau sekolah tersebut. Didampingi Banu Atmoko, salah satu pengurus yayasan, Laila tak kuat menahan pesing. "Lihat sendiri dampaknya kalau krisis air dampak dari air PDAM mampet," kata Laila.

Bay Pesing itu diyakini karena semua siswa tak bisa menyiram kencingnya karena air habis. Laila mendesak agar PDAM memprioritaskan penanganan fasilitas seperti sekolah.

Banu lantas mengantarkan Laila untuk melihat kran air yang masih mampet. Nyalanya ithir-ithir. Bahkan, air berwarna keruh.

"Tidak ada air sejak Jumat, kami cukup mengalami kesulitan. Untuk kebutuhan air, siswa dan guru bergotong royong membawa air jirigen dari gang sebelah. Kebetulan, disana ada sumur yang bisa digunakan untuk sumber air," tutur Banu.

Kegiatan salah dhuha siswa juga terganggu. Semua siswa diminta ambil wudhu dari rumah Dan kampung sebelah. Banu mengaku menghubungi Call Center PDAM namun tak ada tanggapan.

"Saya hubungi lewat WhatsApp untuk meminta bantuan distribusi air bersih dan mempertanyakan kabar perbaikan. Namun jawabannya hanya disuruh bersabar," ungkapnya.

Ironis saat musim hujan sebagian besar warga Surabaya Timur dan sebagian wilayah yang lain krisis air bersih. Mereka ada yang terpaksa beli air gledekan dan air galon untuk masak. Akibatnya pengeluaran membengkak.

Yang disayangkan, krisis air bersih itu karena kecerobohan pengembang saat melalukan aktivitas proyek. Mereka tidak komunikasi lebih dulu kepada PDAM. Akibatnya aktivitas proyek besar mereka membikin pipa hancur.

"Ada baiknya jika pipa itu ditanam atau berada di kedalaman bisa dipasang penunjuk. Misalnya di sepanjang jalan ini ada jaringan PDAM," kata Laila.

PDAM juga perlu melakukan Pendataan tentang lokasi jaringan pipa seluruh Surabaya. Agar kejadian yang menyengsarakan warga karena air tak terulang. Jika sudah terdata, maka PDAM atau Pemkot harus berkoordinasi pada pengembang perihal data tersebut.

Selain itu, Laila mendesak perlunya persediaan truk tangki yang memadai saat darurat. Terutama untuk fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah. Mereka bisa dikirim air tangki.

Laila mendorong agar BUMD PDAM Surya Sembada meningkatkan kuwalitas layanan. Mulai dari pencatatan meteran kubik air hungga material air. Saat ini air masih kerap keruh. Kenaikan tarif PDAM tak sebanding dengan kejernihan air.

Sementara itu, Direktur Utama PDAM Surya Sembada Kota Surabaya Mujiaman menuturkan bahwa saat ini perbaikan pipa di Purimas sudah tuntas. Sudah 90 persen warga Terdampak teraliri air.

"Ada yang lancar ada yang belum. Mohon dimaklumi kalau keruh karena situasi mendesak tak sempat membersihkan sisa material. Ada juga pipa angsa yang juga tekena dampak material sehingga keruh," kata Mujiaman.

Selama perbaikan di Purimas tersebut, PDAM sudah mendistribusikan 35 truk tangki. Sebanyak 20 truk tangki milik PDAM dan sisanya milik DKRTH Surabaya.

Namun, kapasitas satu tangki hanya 5 meter kubik per jam. Sedangkan air yang disalurkan secara normal mencapai 2 meter kubik per detik.

"Perbandingannya jauh sekali. Jadi, bantuan air tak akan bisa maksimal. Hari Minggu kami berhasil memperbaiki. Jika masih ada masalah, warga bisa melapor untuk kami tindak lanjuti," kata Mujiaman.

(ega/mpr)