Kunjungi MPR, Ratusan Siswa SMAN Jonggol Belajar Sistem Ketatanegaraan

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Kamis, 05 Mar 2020 17:29 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Sekitar 456 pelajar dan 16 guru pembimbing dari SMA Negeri 1 Jonggol, Jawa Barat, kunjungi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Delegasi diterima langsung oleh Kepala Biro Humas Sekretariat Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, di ruang rapat Gedung Nusantara V , Kompleks MPR, Senayan Jakarta.

Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan, Didih Wastidjo yang merupakan pimpinan rombongan tersebut menyampaikan apresiasi atas penerimaan yang sangat hangat dari MPR.

"Kunjungan ini adalah kunjungan kedua kami ke gedung MPR. Walaupun begitu, kami terutama anak-anak didik sangat antusias sekali berkunjung ke MPR. Bahkan, hujan yang tak kunjung henti sejak kami berangkat dari Jonggol selepas Subuh tadi, tak menyurutkan antusias kami. Sebab, di tempat inilah kesempatan para anak didik untuk menyaksikan secara nyata, jelas pusat sistem ketatanegaraan Indonesia, tempatnya para Wakil Rakyat bersidang untuk kemakmuran rakyat," kata Didih dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2020).

Tujuan utama kedatangan rombongan, lanjut Didih, adalah dalam rangka memperkuat wawasan pengetahuan seputar kebangsaan para pelajar, tentang tugas-tugas dan wewenang lembaga negara khususnya lembaga MPR, dengan menimba langsung wawasan tersebut dari sumbernya di MPR.

"Harapan kami adalah, dari kunjungan ini, para pelajar bisa semakin memahami pelajaran-pelajaran tentang ketatanegaraan, tentang kebangsaan, tentang Pancasila. Dalam kata lain, para anak didik kami perkenalkan dengan dunia nyata tempatnya orang-orang hebat bersidang. Mudah-mudahan akan menginspirasi mereka bercita-cita ingin menjadi wakil rakyat," ujarnya.

Di hadapan para pelajar dan guru pendamping, Kepala Biro Humas MPR Siti Fauziah mengatakan di masa yang akan datang, para pelajar ini mungkin akan menjadi orang-orang terpilih yang bisa duduk di rumah rakyat Indonesia sebagai anggota MPR.

"Selamat datang, di Gedung Nusantara V kompleks Gedung MPR yang merupakan rumah rakyat Indonesia. Di sini adalah rumah kalian, jadi jangan sungkan-sungkan. Apalagi kalian generasi muda bangsa. Siapa tahu di masa mendatang, ada beberapa dari kalian yang duduk di sini menjadi anggota MPR dan menjadi Pimpinan MPR," ujarnya.

Usai menerima para rombongan, Siti atau akrab disapa Titi juga memberikan paparan materi seputar konstitusi, seputar parlemen dan Sosialisasi Empat Pilar MPR. Ia mengatakan konstitusi atau UUD NRI Tahun 1945 adalah sumber hukum tertulis tertinggi di negara Indonesia.

"Yang perlu dipahami adik-adik pelajar adalah soal penyebutan UUD. Kalau dulu sebelum diamandemen penulisan dan penyebutan UUD adalah UUD 1945. Pasca amandemen, menjadi UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945). Ini adalah pengetahuan dasar yang mesti diketahui para pelajar," ungkapnya.

UUD NRI Tahun 1945, lanjutnya, merupakan salah satu pilar dari Empat Pilar MPR selain Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika yang sedang gencar disosialisasikan MPR ke berbagai elemen masyarakat dengan berbagai metode penyampaian, salah satunya melalui metode Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR untuk pelajar SMA.

Yang unik dari teknik pemaparan Titi sebagai pemateri utama adalah di tengah-tengah pemaparan, bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan, materi disampaikan secara interaktif dengan terlebih dahulu memberikan pancingan atau rangsangan melalui kuis-kuis kecil yang mampu menarik perhatian seluruh pelajar.

Contoh, saat materi menyentuh bahasan tentang MPR, pemateri terlebih dahulu memancing dengan pertanyaan tentang berapa anggota MPR dan Pimpinan MPR. Saat itulah, seluruh pelajar berlomba menjawab dengan secara berbarengan menyalakan tombol mikrofon.

"Antusias sekali ini anak-anak, tolong satu persatu menjawabnya, berapa anggota MPR dan berapa Pimpinan MPR serta siapa namanya," tanyanya, seraya tersenyum melihat para pelajar berebut menjawab pertanyaan.

Usai mendengarkan jawaban para pelajar, Titi kemudian menjelaskan di lingkungan Parlemen ada tiga lembaga negara yakni MPR, DPR dan DPD. Untuk keanggotaan, MPR memiliki 711 anggota yang terdiri dari 575 orang anggota DPR dan 136 orang anggota DPD. Pimpinan MPR ada 10 orang , dengan 1 Ketua dan 9 orang Wakil Ketua.

"Sedangkan tugas dan kewenangan MPR adalah antara lain melantik Presiden dan Wakil Presiden hasil pemilihan umum, mengubah dan menetapkan UUD, memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya sesuai dengan ketentuan di dalam UUD," tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut pemateri juga menyampaikan seputar gedung parlemen yang banyak memiliki filosofi kenegaraan yang sangat penting buat rakyat. Antara lain, dua bangunan yang sangat ikonik yakni Gedung Kura-Kura atau Hijau. Di dalam gedung tersebut atau resminya disebut Gedung Nusantara, tempatnya digelar berbagai rapat penting seperti rapat paripurna mengesahkan UU, pelantikan Pimpinan MPR, DPR dan Presiden serta Wakil Presiden.

"Ada satu lagi yakni bangunan bernama Monumen Elektrik, letaknya tepat di depan Gedung Kura-Kura dekat taman dan air mancur. Di monumen tersebut ada 3 elemen unik yang melambangkan masa lalu, masa saat ini dan masa yang akan datang. Filosofinya adalah, kita tidak boleh melupakan sejarah dalam perjalanan menapaki masa sekarang untuk menuju masa depan yang lebih baik," terangnya.

Momen yang ditunggu para pelajar adalah sesi tanya jawab. Titi sebagai pemateri utama memberikan kesempatan pelajar menyampaikan pertanyaan apa saja terkait MPR dan kebangsaan. Tawaran tersebut langsung disambut oleh beberapa pelajar di antaranya, Yuda perwakilan kelas 10 IPA 2 yang mempertanyakan tentang fungsi Empat Pilar buat rakyat.

Pertanyaan Yuda, dijawab Titi dengan lugas bahwa Empat Pilar MPR yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika adalah nilai-nilai luhur bangsa Indonesia atau jati diri bangsa Indonesia. Hal tersebut tidak boleh pisah dari diri seluruh rakyat Indonesia. Untuk itulah MPR melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan gencar kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia dengan maksud untuk menginternalisasikan kembali nilai-nilai luhur tersebut.

"Contohnya, kita menjaga agar anak-anak muda Indonesia tetap mengetahui, hafal dan mencintai lagu-lagu nasional kita. Bukan hanya hafal lagu-lagu luar saja seperti lagu-lagu K-pop. Tapi, hafal juga lagu nasional. Hal itu penting, untuk menjaga jati diri bangsa walaupun hanya dalam syair lagu. Begitu juga dengan kekayaan bangsa kita seperti bahasa daerah, budaya daerah, anak-anak muda mesti tahu dan menjaga itu," ujarnya.

Pada intinya, lanjut Titi, fungsi Empat Pilar adalah menjaga agar nilai-nilai yang merupakan jati diri bangsa dari diri seluruh anak bangsa terutama generasi milenial, tidak lantas hilang oleh gerusan dan terpaan budaya-budaya asing belum tentu sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

(akn/ega)