Ustaz Abdul Somad Beberkan Empat Ciri Orang Pintar Menurut Islam

Rosmha Widiyani - detikNews
Selasa, 03 Mar 2020 13:48 WIB
Ustaz Abdul Somad
Foto: Ustaz Abdul Somad (dok. Aishtv)/Ustaz Abdul Somad Beberkan Empat Ciri Orang Pintar Menurut Islam
Jakarta -

Seorang muslim sebetulnya adalah cendekiawan dengan empat karakter yang wajib dimiliki tanpa kecuali. Cendekiawan merujuk pada orang pintar yang tidak hanya teori namun juga praktik dalam kehidupan sehari-hari.

"Cendekiawan muslim bisa membaca yang tersurat dan tersirat, mau berpikir kritis, mau neliti, mau kasih solusi. Sekadar kritik tanpa solusi jadinya pecundang bukan cendekiawan," kata Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam wawancara usai peluncuran buku yang ditulisnya berjudul A Note From Cairo.

Menurut UAS seorang muslim jangan hanya mahir membaca kitab atau buku. Karena jika seperti itu, maka Nabi Muhammad SAW tidak memenuhi syarat menjadi cendekiawan. Nabi Muhammad SAW tidak bisa membaca atau menulis hingga turun wahyu dari Allah SWT dalam bentuk Al-Qur'an.

Ketidakmampuan Rasulullah SAW membaca atau menulis (unlattered) hingga datangnya Al-Qur'an tertulis dalam surat Al-Ankabut ayat 48,

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

Arab latin: Wa mā kunta tatlụ ming qablihī ming kitābiw wa lā takhuṭṭuhụ biyamīnika iżal lartābal-mubṭilụn

Artinya: Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).

UAS juga merujuk pada pengalamannya berdakwah di berbagai kota dan provinsi dengan kebudayaan yang berbeda. Tiap daerah memiliki berbagai cara untuk menghormati seorang ustaz atau orang yang punya ilmu. Jika tidak bisa membaca maksud baik dari tiap budaya, maka cara menghormati bisa dianggap melanggar aturan agama atau norma lainnya.

"Di sinilah kita harus bisa membaca dari dua arah. Cara berpikir seperti ini memungkinkan saling kena sehingga tahu budaya bagaimana cara menghormati orang," kata UAS.

Ciri kedua adalah berpikir kritis yang dijelaskan UAS melalui kisah Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam. UAS mengatakan, Rasulullah SAW mungkin tidak perlu menghadapi masalah jika selama berdakwah hanya mengajak sholat, membaca Al-Qur'an, atau sedekah. Namun Nabi Muhammad SAW mengkritik Suku Quraisy karena lebih memilih menyembah berhala bukan Allah SWT yang jelas Maha Besar.

"Abu Jahal dan Abu Lahab ini dikritik makanya marah. Mereka ini punya garis keturunan Nabi sebelumnya tapi masuk neraka, beda dengan Bilal yang masuk surga. Suku Quraisy juga bikin strata yang paling tinggi adalah Orang Arab Suku Quraisy, lalu Arab non Quraisy, kemudian orang putih, baru kemudian kulit hitam. Marah karena dikritik ya Abu Lahab," kata UAS.

Terkait berpikir kritis, UAS mengingatkan jangan takut keluar dari anggapan umum masyarakat. Berpikir kritis memungkinkan muslim yang juga cendekiawan, melihat masalah dengan sudut pandang yang lebih luas. Hal ini bisa berdampak positif pada solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat.

Ciri muslim dan cendekiawan selanjutnya adalah keinginan meneliti yang lekat dengan kemampuan berpikir. Allah SWT telah mengingatkan muslim selalu meggunakam kemampuannya dalam berpikir. Dalam firmanNya, Allah SWT mengancam manusia yang tidak mau berpikir seperti tertulis dalam surat Al-Mulk ayat 10,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Arab latin: Wa qālụ lau kunnā nasma'u au na'qilu mā kunnā fī aṣ-ḥābis-sa'īr

Artinya: Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".

UAS mengatakan, ancaman bagi mereka yang tidak mau berpikir adalah calon penghuni neraka sa'ir. Ancaman nama neraka yang berarti menya-nyala ini, sudah cukup bagi muslim untuk mau berpikir sebelum bertindak atau mengambil keputusan.

Kemampuan membaca, berpikir kritis, mau meneliti, akhirnya memberikan solusi yang bisa diterapkan muslim di lingkungannya. Hal ini juga dicontohkan Nabi Muhammad SAW dengan memanfaatkan ilmu dan pendapat masyarakat umum. Solusi diharapkan bisa menyelesaikan masalah tanpa ada yang merasa dirugikan.

UAS mengingatkan, muslim harus mengamalkan ilmu yang diperoleh demi kebaikan umat. Ilmu jangan sampai hanya membuat muslim mampu memberi kritik tanpa bisa menyediakan solusi. Kritik tanpa solusi mengakibatkan manfaat ilmu tak bisa dirasakan masyarakat.

(row/erd)