Ridwan Saidi Terbuka Diundang Warga Ciamis Diskusi Kerajaan Galuh 'Brutal'

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 20 Feb 2020 00:21 WIB
budayawan Betawi Ridwan Saidi
Ridwan Saidi (Foto: Ari Saputra)

Lebih lanjut, Ridwan mengatakan setiap daerah memiliki potensi sejarah. Sehingga setiap orang berpotensi menulis sejarah.

"Saya ingin bahwa semua kota di Indonesia potensi sejarahnya kita angkat. Bahwa itu ada sedikit bergesekan, perbedaan. Di dalam penulisan sejarah kan tidak ada otonomi daerah. Jakarta terbuka untuk siapapun menulis sejarahnya," jelas dia.

Ridwan mengatakan dia juga bersedia apabila warga Ciamis mengundangnya untuk berdiskusi. Ridwan menegaskan bahwa dia adalah orang yang sangat terbuka.

"Saya kalau undangan tertulis, dikomunikasikan juga waktunya. 'Woy sini', kan saya susah, Pak, kalau cuma begitu. Saya terbuka," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, pernyataan kontroversial Ridwan soal Ciamis dan Kerajaan Galuh ini ada dalam Video berdurasi 12 menit 31 detik dengan judul 'GEGEER !! TERNYATA KERAJAAN KERAJAAN DI INDONESIA SANGAT DITAKUTI DI DUNIA' yang diunggah 12 Februari 2020.

"Saya mohon maaf dengan saudara dari Ciamis. Di Ciamis itu nggak ada kerajaan, karena indikator eksistensi kerajaan itu adalah indikator ekonomi, Ciamis penghasilannya apa? Pelabuhannya kan di selatan bukan pelabuhan niaga, sama dengan pelabuhan kita di Teluk Bayur, bagaimana membiayai kerajaan," ujar Ridwan.

"Lalu diceritakanlah ada Raja Sunda Galuh. Sunda Galuh saya kira agak keliru penamaan itu, karena galuh artinya brutal, jadi saya yakin tidak ada peristiwa Diah Pitaloka, wanita dari Sunda Galuh itu dipanggul-panggul dibawa ke Hayam Wuruk untuk dikawinin. Itu yang dikatakan perang bubat, sedangkan bubat itu artinya lapang olahraga bukan nama tempat. Jadi di bubat yang mana dia perang. Juga di Indonesia tidak ada adat perempuan mau kawin dijunjung-junjung dianterin ke rumah lelaki itu kagak ada, itu tidak Indonesia," tuturnya.

Halaman

(lir/azr)