Tampik Kerajaan Galuh 'Brutal', Pelestari Budaya Sunda: Artinya Permata

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 21:59 WIB
Ketua Pelestari Budaya Sunda, Eni Sumarni
Foto: Screenshot d'rooftalk Ketua Pelestari Budaya Sunda, Eni Sumarni
Jakarta -

Pelestari Budaya Sunda, Eni Sumarni menanggapi pernyataan budayawan Ridwan Saidi yang mengatakan Kerajaan Galuh memiliki arti kata brutal. Eni mengatakan galuh yang dimaksud adalah dari bahasa Sansekerta yang berarti permata.

Awalnya Eni mengatakan banyak masyarakat Sunda yang keberatan bahwa Kerajaan Galuh disebut Ridwan Saidi memiliki arti brutal. Namun, Eni menyebut pernyataan 'Babe' Ridwan Saidi dalam YouTube tersebut membuat nama Galuh menjadi populer.

"Tentunya kita sangat apresiasi, kebetulan saya hidup komite tiga, sehingga pasti alurnya kepada kita bermuara pada menyampaikan aspirasi. Beberapa kawan yang menyampaikan kepada, terutama kita keberatan gara-gara Babe (Ridwan) kita jadi ikut populer dan untuk meluruskan yang sebenarnya. Meluruskan sejarah ada pakarnya," ujar Eni dalam acara d'Rooftalk bertajuk 'Gaduh Arti Galuh', yang disiarkan live di detikcom, Rabu (19/2/2020).

Eni mengatakan Kerajaan Galuh berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya pertama. Eni mengatakan pernyataan Babe itu mengingatkannya kembali pada sejarah Sunda.

"Sebenarnya Galuh ini dari bahasa Sansekerta, inti, permata, sangat bagus sekali diyakini orang Sunda, permata. Sangat terpukul awalnya, ini sebagai proses pembesaran Sunda dan sejarah. Kalau Babe, tidak akan sebesar ini nama Galuh," kata dia.

Screenshot d'rooftalk 'Gaduh Kerajaan Galuh'Screenshot d'rooftalk 'Gaduh Kerajaan Galuh' Foto: Screenshot d'rooftalk 'Gaduh Arti Galuh'

Eni kemudian meluruskan Galuh bukan berarti brutal dalam bahasa Belanda. Eni menyebut banyak masyarakat yang menggunakan nama Galuh yang berarti permata.

"Kita luruskan, bukan brutal dari bahasa Belanda. Tapi kita ambil dari Sansekerta. Banyak yang namanya Galuh, permata," ungkapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2