Saat Seniman Baca Puisi Protes Revitalisasi TIM di DPR

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Senin, 17 Feb 2020 16:32 WIB
Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (TIM) audiensi di DPR (Nur Azizah Rizki Astuti/detikcom)
Foto: Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (TIM) audiensi di DPR (Nur Azizah Rizki Astuti/detikcom)
Jakarta -

Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (TIM) menolak revitalisasi. Para seniman merasa tidak lagi punya tempat untuk berkarya.

"Kalau dulu kami punya ruang ekspresi tapi tidak bisa berkreasi karena kebebasan dizalimi, sekarang kami punya kebebasan setelah (tahun) '98 untuk berbuat apa saja, mengekspresikan apa saja, tapi sejak tahun lalu ruang kreasi itu dibunuh, dihancurkan," kata salah seorang seniman Noorca M Massardi dalam rapat di Komisi X DPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/2/2020).

"Hari ini kalau Bapak Ibu sekalian lihat, sangat menyedihkan, sama sekali tidak ada penghargaan kepada ruang-ruang yang pernah menciptakan, melahirkan banyak kreasi, itu sama sekali tidak dihargai, bahwa itu hanya sekadar benda, bisa dirubuhkan untuk kepentingan komersialisasi," imbuhnya.

Noorca menduga ada eksploitasi dalam revitalisasi TIM untuk kepentingan komersil. Ia juga menyuarakan kekecewaan karena para seniman tidak pernah diajak bicara oleh pihak Pemprov DKI Jakarta.

"Jadi keadaan ini sungguh mengerikan. Kita tidak bisa lagi mewariskan apapun kepada anak cucu. Kalau nanti seandainya proyek ini jalan terus 28 tahun semuanya harus berbayar, semuanya bintang 5, dan ada upaya-upaya pembunuhan terhadap kebudayaan," ujarnya.

Noorca pun meminta proyek revitalisasi TIM itu dihentikan. Jika Pemprov DKI menolak, Noorca mengusulkan agar pusat kesenian Jakarta itu dikelola oleh pemerintah pusat.

"Apakah kalau pemda DKI keberatan, bisakah Komisi X mengusulkan kepada pemerintah pusat agar pusat kesenian Jakarta itu diambil alih oleh pusat, didanai oleh pemerintah pusat dengan APBN," pintanya.

Dalam kesempatan itu, Noorca juga membacakan sebuah puisi. Ia menyindir kondisi bangsa jika tidak ada kebudayaan.

Berikut ini adalah puisi yang dibacakan Noorca:

Ketika Mesin Mengenang Rendra

Tanpa kebudayaan, tidak akan ada kehidupan
Tanpa kebudayaan, maka ilmu pengetahuan, teknologi, dan perilaku manusia akan kehilangan makna
Mengapa dan untuk apa semua itu diciptakan?

Tanpa kebudayaan, politik semata alat untuk kekuasaan
Tanpa kebudayaan, ekonomi hanya untuk pemburu profit
Tanpa kebudayaan, pendidikan hanyalah alat untuk menciptakan mesin, alat untuk menciptakan sistem
Tanpa kebudayaan, sistem hanya akan melahirkan mesin
Dan tanpa kebudayaan, sistem dan mesin hanya akan memproduksi mesin, bukan manusia

Simak Video "Yuk, Intip Proses Revitalisasi Taman Ismail Marzuki"

[Gambas:Video 20detik]

(azr/gbr)